Beranda Opini

Pengaruh Pandemi Covid-19 pada Perkreditan dan Kebijakan Pemerintah

0

Sejalan dengan model Y = C + I, dengan Y adalah pendapatan/penghasilan, C adalah konsumsi, dan I adalah investasi, maka saat penghasilan menurun, komponen konsumsi dan investasi juga menurun. Turunnya kedua komponen ini berdampak pada perlambatan ekonomi.

Keadaan yang mengharuskan setiap orang untuk menjaga jarak dan meminimalkan interaksi antar individu secara langsung membuat banyak kegiatan ekonomi mulai berkurang.

Sebagai contoh, adanya larangan untuk ‘makan di tempat’ di restoran dan dianjurkan makanan dibawa pulang. Hal ini membuat restoran mulai sepi dan mengurangi penghasilan.

Belum lagi jika banyak orang memilih untuk membuat makanan sendiri di rumah.
Saat mall ditutup untuk mengurangi orang berkumpul, membuat penghasilan para pengusaha yang mempunyai toko di mall tersebut menurun. Padahal di satu sisi mereka harus membayar sewa tempat kepada mall.

Para pengusaha yang modalnya berasal dari pinjaman/kredit di bank, penurunan penghasilan ini membuat mereka berpikir keras tentang bagaimana cara untuk membayar cicilan kredit saat mereka justru merugi.

Hal ini tentunya berdampak pada performa pembayaran kredit pada bank. Potensi hadirnya kegagalan bayar atau kredit macet oleh debitur kepada bank cukup tinggi, mengingat kemampuan bayar yang mendadak turun akibat kejadian di luar kendali manusia ini.

Risiko hadirnya kredit macet atau Non Performing Loan dapat menekan sektor perbankan terutama bank-bank kecil.

Masalah kredit macet ini jika dibiarkan dapat menyebabkan krisis ekonomi. Uang yang sudah keluar dari bank untuk membiayai debitur tidak dapat kembali. Maka tidak ada perputaran uang di bank.

Bayangkan jika bank tidak mempunyai uang, kemudian nasabah yang menyimpan uangnya ingin mengambil uang. Maka akan terjadi Bank Panic seperti yang terjadi pada krisis ekonomi tahun 1998.

example banner

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here