Di Depan Mahasiswa, Ketua PWI Kepri Bicara Etika Bermedia Sosial

example banner

Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa STIE Bentara Persada-f/istimewa-pwi kepri

BATAM (HAKA) – Saat menyampaikan kuliah umum di STIE Bentara Persada Batam, Senin (26/08/2019) malam, Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim membahas etika menggunakan media sosial (medsos).

Kata Candra, diperlukannya etika dalam bermedia sosial, agar tidak tersandung masalah hukum.

“Ada dua undang-undang yang mengatur, yakni Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE dan Undang-Undang pidana,” terangnya.

Diakuinya, di era teknologi saat ini, perkembangan media sosial tak bisa diabaikan dan ditolak, namun bermedia sosial harus ada etikanya.

“Kadang-kadang kita tak menyadari, ketika menulis atau nge-share sesuatu, dianggap itu bagian privasi. Awalnya memang di medsos pribadi kita. Namun ketika itu masuk ruang publik, apa yang dibagikan atau di share itu dikonsumsi ruang publik. Dan ketika itu hoax atau fitnah, maka ingat ada UU yang mengatur,” tegas Candra.

Candra yang juga Direktur Utama Batam Pos itu mengimbau mahasiswa agar, memperhatikan unggahan. Harus dapat memilah hal-hal pribadi untuk diunggah.

“Hal yang sifatnya pribadi jangan sampai share di media sosial,” kata Candra.

Hal ini bahkan, menurut Candra dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan sebagai celah untuk melakukan tindak kejahatan dengan mengetahui kebiasaan dan aktivitas sehari-hari lewat media sosial.

“Kemudian jangan terlalu mengumbar foto pribadi, keluarga, atau anak kecil, ingat kejahatan terjadi karena ada kesempatan tetap waspada,” tambahnya.

Selanjutnya, saring sebelum sharing. Ketika mendapatĀ  infromasi di media sosial, jangan langsung dibagikan atau share. Mahasiswa diharap dapat menanyakan kembali kebenaran informasi tersebut, tidak serta merta meneruskannya kepada orang lain.

“Mari berbagai informasi supaya kita cerdas, produktif dalam berinternet. Kan sayang, karena jempol tak seberapa kemudian kita berurusan dengan jeruji besi. Kelihatan sederhana tapi dampaknya besar. Yang pasti jejak digital gak bisa hilang,” tegas Candra.

Ia menambahkan, salah satu ciri generasi milenial adalah generasi yang melek IT, melek ilmu pengetahuan dan mereka yang tak bisa lepas dari gadgetnya. Makanya yang paling banyak diserang adalah generasi milenial ini.

Pasar terbesar seluruh dunia, dan generasi milenial ini. Merekalah yang akan mengambil alih estafet kepemimpinan, banyaknya mahasiswa sekarang sudah melek ke medsos.

“Makanya sebagai generasi milenial ini, kita harus pintar memilih konten, menshare konten atau pun menulis konten,” tukasnya. (red/rilis pwi kepri)

author

Author: 

Tinggalkan Balasan