Beranda Daerah Tanjungpinang

Masuk Penyengat dari Kampung Datuk, Keluar dari Pelantar di Depan Masjid Sultan

0
Walikota tanjungpinang h lis darmansyah berfoto bersama anggota Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kelurahan Penyengat di Balai Adat Inderasakti, Kamis (30/3/2017) sore.

TANJUNGPINANG (HAKA) – Wako Tanjungpinang H Lis Darmansyah SH, menghadiri acara pengajian Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kelurahan Penyengat di Balai Adat Inderasakti, Kamis (30/3/2017) sore.

Meski dibawah guyuran hujan deras Lis tetap bersemangat memenuhi undangan ibu pengajian BKMT yang rutin dilakukan sebulan sekali. Setibanya di lokasi acara, Lis langsung disambut dengan lantunan shalawat nabi oleh ibu-ibu pengajian. Ibu-ibu lainnya langsung berkerumun ke arah Lis untuk berjabat tangan.

Lis, mengatakan hujan ini membuat sejuk dan kesejukannya menandakan kondisi di kota ini selalu sejuk. “Semoga membawa keberkahan bagi kota yang kita cintai ini. Pengajian sebagai wadah untuk menjalin silaturahim di antara kita. Mudah-mudahan kebersamaan kita tetap terjaga,” ucap Lis.

Di kesempatan itu, Lis memaparkan beberapa program dan kegiatan pemerintah ke depan untuk Pulau Punyengat. Mulai dari akses jalan, pelantar, hingga Balai Adat. Perencanaannya, akses pintu masuk dan keluar Pulau Penyengat akan dibedakan, masuk dari Kampung Datuk dan keluar dari pelantar depan Masjid.

“Pelantar itu nantinya akan kita perindah, selain difungsikan sebagai tempat parkir, bila malam hari, bisa dijadikan pujasera bagi pelaku usaha di Pulau Penyengat. Ini dilakukan supaya pusat ekonomi baru dapat tumbuh di Pulau Penyengat. Guna mengantisipasi kebakaran, kita akan standby-kan mobil pemadam kebakaran di Pulau Penyengat,” ujar Lis.

Di samping itu, lanjut Lis, ada beberapa kebijakan mengenai tata etika orang dan etika bangunan yang masih dalam tahap penyusunan. Setelah kebijakan ini rampung, kita akan sosialisasikan kepada masyarakat.

Lis pun meminta dukungan kepada seluruh masyarakat pulau penyengat untuk kebijakan tersebut. Ia menjelaskan mengenai gambaran dari kebijakan etika orang, ke depan orang-orang yang berkunjung ke Pulau Penyengat tidak lagi diperbolehkan mengenakan pakaian yang tidak sopan.

Untuk pengelolaan pakaian itu nanti diserahkan kepada warga setempat. Tak hanya pengunjung, kebijakan ini berlaku bagi warga Pulau Penyengat, lebih-lebih lagi pada waktu salat, tak ada lagi warga yang tak memakai baju sambil nongkrong dan tertawa-tertawa di tempat umum.

Sedangkan untuk etika bangunan di Pulau Penyengat harus berkonsep Melayu. Karena itu, Lis minta dukungan warga, supaya Pulau Penyengat yang kaya akan sejarah Melayu tetap terjaga indentitasnya.

“Indentitas Melayu adalah Islam, Islam adalah Melayu harus kita jaga. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya. Mohon dukungannya, ini untuk mencerminkan ciri khas atau indentitas Melayu di Tanjungpinang,” ucap Lis.

Lis pun tak lupa mengingatkan kepada ibu-ibu agar memanfaatkan kartu BPJS kesehatan untuk mengecek kesehatannya. “Ibu-ibu harus jaga kesehatan, kartu BPJS itu jangan hanya digunakan saat ibu/bapak sakit, tetapi bisa digunakan untuk memeriksa penyakit lainnya. Seperti deteksi kanker serviks, kanker payudara, mata, dan lainnya,” kata Lis.

Seusai memberi sambutan, Lis melakukan dialog santai dengan ibu-ibu dan warga yang hadir. Acara pengajian itu ditutup dengan ceramah agama dan doa yang disampaikan oleh ustaz Raja Sofyan. (red/humas pemko)

Loading...


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here