Beranda Headline

Lingga Jadi Magnet Pecinta Pertanian Organik

0
Camat Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Andi Asman Sulaiman (kiri) didampingi Bupati Lingga, Kepri, Alias Wello (kanan) saat mengunjungi lokasi sawah di Desa Sungai Besar, Lingga Utara

DAIK (HAKA) – Sejak Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman memproklamirkan Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri) sebagai basis pertanian organik terbesar di wilayah perbatasan Indonesia – Singapura pada 7 September 2016 lalu, nama Kabupaten berjuluk “Bunda Tanah Melayu” itu, menjadi magnet bagi para pecinta pertanian organik di dalam dan luar negeri.

Selain ingin melihat langsung potensi lahan pertanian di Kabupaten Lingga, mereka juga menawarkan kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Hal itu terungkap dalam kunjungan salah seorang pakar pertanian organik dari Thailand, Prof. Danuwat Pengont dan salah seorang penyuluh pertanian terbaik Indonesia, Sucipto.

Tak tanggung-tanggung, Menteri Pertanian menggelontorkan anggaran pencetakan sawah baru untuk, Kabupaten Lingga yang berada di ujung paling selatan Provinsi Kepri itu, seluas 3.000 hektare dan ratusan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Ia berharap, Kabupaten Lingga mampu meredam dominasi peredaran beras impor di daerah perbatasan Indonesia dengan Singapura dan Malaysia.

“Kepercayaan pemerintah pusat ini akan kita laksanakan secara sungguh-sungguh. Sebagai daerah yang baru mengenal sektor pertanian, khususnya budi daya tanaman padi, Lingga harus banyak belajar dari para ahlinya,” ungkap Bupati Lingga, Alias Wello saat menerima kunjungan Camat Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Andi Asman Sulaiman di lokasi sawah Desa Sungai Besar, Kamis, (19/1).

* Cetak Sawah Tanpa Dana APBD

Lokasi sawah yang dikunjungi Camat Barebbo itu, merupakan sawah yang dibangun tanpa APBD atau dengan menggunakan dana swadaya Bupati Lingga, Alias Wello dan sahabatnya, Ady Indra Pawennari, peraih anugerah Pahlawan Inovasi Teknologi tahun 2015. Dengan memanfaatkan lahan tidur, bekas kebun karet masyarakat yang sudah terbakar, keduanya berhasil mengubah mitos padi di Lingga menjadi kenyataan.

“Kini, Lingga sudah menjadi produsen beras, meski masih dalam skala kecil. Dulu, waktu saya baru dilantik pertengahan Februari 2016 dan mengumumkan bahwa dalam waktu enam bulan ke depan, Lingga sudah menghasilkan beras. Banyak yang tidak percaya dan pesimis karena sejak abad ke-18, Lingga memang tidak pernah memproduksi beras. Makanan pokoknya adalah sagu. Tapi, hari ini mitos itu sudah kita pecahkan,” kata Bupati Lingga yang akrab disapa Awe ini.

Dalam kunjungan tersebut, Camat Barebbo yang juga adik kandung Menteri Pertanian ini membawa sejumlah pecinta pertanian organik, di antaranya salah seorang penyuluh pertanian terbaik Indonesia Sucipto, ahli pupuk organik dari PT. Dahliah Duta Utama, Suryawansah dan ahli penataan ruang, M. Hatta S Yahya. Mereka bertekad membantu dan menawarkan kerjasama alih teknologi pertanian untuk masyarakat, khususnya petani di Kabupaten Lingga.

“Jauh sebelum Pak Mentan berkunjung ke Lingga, saya sudah sering komunikasi dengan sahabat saya, Ady Indra Pawennari tentang potensi pertanian Lingga dan semangat Pak Alias Wello untuk menjadikan daerahnya sebagai lumbung padi. Kebetulan, Kabupaten Bone, khususnya Kecamatan Barebbo adalah salah satu lumbung padi yang cukup diandalkan di Sulawesi Selatan,” ungkap Andi Asman.

* Lingga – Bone Siap Kerja Sama

Usai mendengarkan paparan tentang teknologi pertanian masa kini dari penyuluh pertanian, Sucipto, ahli pupuk organik, Suryawansah dan ahli penataan ruang, M. Hatta S Yahya, Bupati Lingga, Alias Wello berjanji akan segera berkunjung ke Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone dan melakukan pertemuan dengan Bupati Bone, Dr.H. Fahsar M. Padjalani, M.Si untuk membicarakan beberapa peluang kerja sama di bidang pertanian, khususnya penempatan beberapa petani dan penyuluh pertanian andalan dari Kabupaten Bone di Lingga.

“Tolong Pak Camat, titipkan salam saya untuk Pak Bupati Bone, saya segera berkunjung ke sana untuk belajar tentang pertanian. Kebetulan memang, antara Melayu dan Bugis itu punya sejarah panjang dalam membangun kerja sama di daerah Kepulauan Riau, khususnya Kabupaten Lingga,” jelasnya. (ana)

Loading...


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here