Beranda Lipsus Features

40 Tahun Jahit Bendera Merah Putih, Warisan Young Chi Bu untuk Nenek Alang

0
Nenek Alang sedang menjahit bendera Merah Putih di tempat usahanya di Kijang, Bintan Timur-f/masrun-hariankepri.com

MENYAMBUT Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke 78 Republik Indonesia (RI) di tahun 2023 ini, banyak hal yang dilakukan anak bangsa.

Mulai dari menggelar upacara bendera, beragam lomba dan pertandingan, memasang pernak pernik bernuansa merah putih, hingga mengibarkan bendera dan umbul-umbul di semua tempat.

Berbicara bendera merah putih, sudah pasti menjadi barang wajib yang perlu disediakan, di bulan Agustus setiap tahunnya.

Hal ini jugalah yang dilakukan nenek Alang, warga Keturunan Tionghoa, yang kini sudah puluhan tahun memproduksi bendera merah putih, lewat keterampilan tangannya.

Nenek Alang, adalah istri dari mendiang Young Chi Bu. Keduanya adalah warga Tanjungpinang, yang telah hijrah dan menetap di Kijang Kota, Bintan Timur, Kabupaten Bintan, sejak tahun 1983 lalu.

Sejak tahun itu, Young Chi Bu yang semasa hidupnya kerap disapa Pak Abu, mulai menjahit bendera Merah Putih dengan berbagai ukuran.

Lalu, bendara Merah Putih itu dijual ke warga dengan cara dipajang setiap hari (kecuali hari Minggu), di depan rumah mereka, tepatnya di tepi jalan Tanah Kuning, Kijang Kota.

Di momen Hari Kemerdekaan RI tahun 2023 ini. Hariankepri.com, berkesempatan mengunjungi tempat usaha Pak Abu tersebut, Selasa (8/8/2023).

Saat tiba di tempat itu, terpajang bendera merah putih berbagai ukuran di depan pintu rumah. Nenek Alang pun tetap sibuk dengan jahitannya, yang salah satunya adalah bendera merah putih ukuran 100 x 70 Centimeter (Cm).

Alang yang berusia sekitar 72 tahun itu menceritakan, bahwa dirinya menjahit bendera ini, sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan sekaligus meneruskan warisan usaha jahit bendera yang dirintis suaminya.

“Iya saya yang terusin usaha suami saya. Suami saya sudah meninggal 5 tahun lalu. Dari jualan bendera Merah Putih, saya beli kebutuhan sehari-hari,” tutur Alang.

Baca juga:  Wagub Buka Musrenbang Tanjungpinang, Rahma Ingatkan Soal Penguatan Ekonomi

Ia pun menyebutkan, usaha yang dirintis oleh almarhum Abu, telah berlangsung 40 tahun, yakni sejak tahun 1983. Usaha bendera nerah putih itu telah dikenali oleh masyarakat luas.

Bahkan telah memiliki langganan tetap. Yakni, mulai dari warga Bintan, Kota Tanjungpinang, bahkan dari pemilik kapal-kapal yang ada di Kepri.

Alang menyebutkan, menjelang 17 Agustus Kemerdekaan RI setiap tahun, banyak warga yang datang beli bendera merah putih. Sampai dirinya tak bisa penuhi permintaan dari konsumen, karena hanya dia yang menjahit bendera itu.

Alang juga memperkenalkan serta menyebutkan harga bendera Merah Putih dengan kualitas kain yang baik. Untuk ukuran 100 x 70 seharga Rp 50 ribu per bendera, 50 x 36 seharga Rp 25 tibu, serta 56 x 36 Rp 10 ribu.

Sedangkan, ukuran 24 x 16 Rp 5 ribu per bendera, 35 x 23 seharga Rp 7 ribu, dan 46 x 28 Rp 8 ribu.

“Kalau hari biasa tak banyak yang laku bendera nya. Tapi kalau di Agustus, orang-orang pada datang beli dari Tanjungpinang, bahkan Tanjung Uban,” pungkasnya.

Di tempat itu, kebetulan ada seorang pengusaha dan pemilik kapal di Tanjungpinang bernama Hendi. Dia mengaku sering membeli bendera merah putih hasil jahitan Nenek Alang sejak 2 tahun terakhir.

“Saya sering beli di sini karena kualitas bagus, tidak cepat pudar dan tidak cepat sobek saat terpasang di kapal,” ucapnya di tempat jualan Nenek Alang.

Menurutnya, kualitas bendera merah putih hasil jahitan Nenek Alang sangat bagus, dibandingkan dengan bendera yang ada di pasar tradisional dan pasar modern.

“Di Tanjungpinang ada yang jual. Cuman kualitasnya kurang bagus dan harganya pun mahal. Nenek ini jual Rp 10 ribu, kalau di Pinang Rp 30 ribu,” tutupnya. (dinda)

Baca juga:  Nilainya Rp 1 Miliar, Nelayan Batam Dapat Bantuan dari Gubernur Ansar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini