Beranda Headline

Hati-hati, Peneliti Minta Masyarakat Pinang Bisa Bedakan Survei dengan Strawpoll

0
Peneliti UMRAH Tanjungpinang, DR Suraji M.Si-f/dokumen-hariankepri.com

TANJUNGPINANG (HAKA) – Belakangan ini, warga Tanjungpinang dihidangkan dengan aplikasi strawpoll, tentang survei masyarakat. Isinya, mengenai tingkat kepercayaan kepada Wali Kota Tanjungpinang.

Akademisi sekaligus Peneliti Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, DR Suraji M.Si mengatakan, strawpoll tidak bisa dijadikan acuan dalam menentukan satu hasil penelitian.

“Hati-hati. Strawpoll itu tidak ada metodologi penelitiannya,” terangnya kepada hariankepri.com, Rabu (7/7/2021).

Suraji meminta kepada seluruh masyarakat Kota Tanjungpinang umumnya Provinsi Kepri, agar berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

Karena kata Suraji yang juga dosen UMRAH itu, banyak aplikasi yang bisa membuat dan mengelabui warga, dengan data yang ditampilkan tapi tidak terjamin keakuratannya.

“Seperti strawpoll, itukan hanya iseng-iseng saja. Dia tidak bisa mewakili populasi masyarakat,” sebutnya.

Dalam pelaksanaan survei, ada metodologi penelitian dan bisa dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, ada beberapa jenis penelitian yang kajian ilmiahnya melalui proses panjang.

“Kalau strawpoll referensinya seperti apa, itukan tidak bisa diverifikasi. Jadi kalau ada seperti itu, anggap sajalah diskusi kedai kopi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tukasnya.

Sementara itu, Alumni Statistik Institut Pertanian Bogor (IPB), Arga Permadi menambahkan, strawpoll itu pengambilan sampel atau respondennya tidak menggunakan metodologi survei/penelitian.

“Kita melakukan survei itu dengan cara mengambil sampel, yang bisa mewakili atau representatif terhadap populasi, sehingga bisa ditarik kesimpulan yang benar berdasarkan sampel tadi,” jelasnya.

Maka dari itu menurut Arga, strawpoll ini sampelnya atau respondennya tidak mewakili populasi, dengan kata lain tidak representatif terhadap populasi.

“Yang mengisi polling pada strawpoll itu bisa siapa saja dan dari mana saja. Pengisian datanya bisa jadi oleh orang yang tidak sesuai populasinya,” jelasnya.

Contoh Pilkada Tanjungpinang, sambung Arga, populasinya masyarakat Kota Tanjungpinang, sampelnya harus orang/pemilih Tanjungpinang, dan yang tinggal di Tanjungpinang.

“Nah kalo strawpoll ini kan bisa siapa saja yang ngisi, bisa orang dari luar Pinang juga. Artinya sampel tidak representatif lagi,” terang Direktur Utama hariankepri.com ini.

Belum lagi karena ini aplikasi, bisa terjadi duplikasi sampelnya. Orang yang sama bisa mengisi jawaban polling berkali-kali. Hasil polling seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Berbeda dengan polling dengan menggunakan metodologi penelitian, hasilnya tetap bisa dipertanggungjawabkan,” tukasnya. (zul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here