Pulau Penyengat jadi Warisan Dunia, Bersaing dengan Kota Tua Jakarta

example banner

Abdul Malik-f/zulfikar-hariankepri.com

TANJUNGPINANG (HAKA) – Pulau Penyengat kembali diusulkan sebagai warisan budaya dunia UNESCO.

Budayawan Kepri Abdul Malik menyampaikan, pengusulan Pulau Penyengat sebagai warisan budaya dunia UNESCO, dilakukan dihadapan perwakilan tim UNESCO di Bogor pada Juli 2019 lalu.

“Alhamdulillah, saat (persentase) itu UNESCO cukup tertarik dengan Pulau Penyengat, dan sekarang ini Pulau Penyengat sedang diprioritaskan oleh pemerintah pusat untuk diajukan dalam sidang UNESCO,” ujarnya, Senin (16/9/2019).

Dekan FKIP UMRAH ini melanjutkan, meskipun dalam pemaparan itu pemerintah pusat juga ikut mengusulkan tempat lain yakni Kota Tua, Jakarta dan Kota Tua, Semarang untuk diikutsertakan dalam sidang penetapan warisan dunia oleh UNESCO.

Namun, pihaknya optimis pihak UNESCO akan lebih memilih Pulau Penyengat, untuk diikutsertakan dalam sidang yang ditargetkan terealisasi pada 2020 mendatang.

“Insya Allah. Karena Penyengat inikan dia ada ciri khasnya. Tidak sama dengan tempat lain (yang juga ikut diusulkan),” sebut Doktor Filsafat Bidang Kesusastraan Melayu ini.

Adapun kekhasan Pulau Penyengat tersebut kata dia, pertama seluruh bangunan bersejarah di pulau itu dibangun oleh masyarakat pribumi pada masanya. Hal ini berbeda dengan di tempat lain yang kebanyakan dibangun oleh pihak kolonial.

Kemudian lanjutnya, Pulau Penyengat juga menjadi satu-satunya pulau di dunia yang menjadi mas kawin dari Sultan Mahmud Riayat Syah III raja terakhir dari Kesultanan Melaka ketika mempersunting Engku Raja Hamidah pada 1801 M.

Kekhasan lain dari Pulau Penyengat lanjutnya, pulau yang luasnya sekitar 1,7 kilometer persegi itu, menjadi pulau terkecil di dunia yang pernah dijadikan pusat Pemerintahan Kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. Pulau Penyengat juga lanjutnya, merupakan gerbang peradaban Melayu pada abad ke-19.

Keistimewaan terakhir dari Pulau Penyengat yang juga menurutnya paling penting adalah, Pulau Penyengat merupakan pusat pengembangan bahasa Melayu. Sehingga menjadi bahasa nasional Indonesia.

“Itu beberapa poin yang menarik UNESCO. Setidak-tidaknya empat poin itu membuat kita unggul,” katanya.

Merujuk dari hal tersebut, ia berharap Pemprov Kepri dapat segera melengkapi data-data pendukung. Dalam melengkapi data pendukung tersebut, ia menyarankan agar Pemprov Kepri dapat juga mencari data pendukung tersebut ke luar negeri. Misalnya ke Belanda atau Malaysia.

“Masyarakat di Pulau Penyengat juga hendaknya juga terus menjaga dan merawat situs-situs bersejarah yang ada di Pulau Penyengat. Jangan sampai dirusak apalagi sampai dirubah dibentuknya,” pungkasnya.(kar)

author

Author: 

Tinggalkan Balasan