TANJUNGPINANG (HAKA) – Sektor pariwisata Kepri, menunjukkan sinyal pelemahan kunjungan wisatawan mancanegara pada awal tahun 2026.
“Penurunan kunjungan dari mayoritas negara penyumbang utama ini, menjadi alarm dini bagi kita,” ujar Wahyu Wahyudin.
Sekretaris Komisi II DPRD Kepri tersebut menilai, kondisi ini bukan sekadar fluktuasi musiman yang biasa terjadi.
“Kita harus mengevaluasi secara menyeluruh arah kebijakan promosi dan daya saing destinasi saat ini,” katanya, kemarin.
Berdasarkan data BPS, wisman Singapura masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 43,21 persen dari total kedatangan.
“Ketergantungan tinggi pada satu negara menyimpan risiko struktural jika terjadi gangguan ekonomi di sana,” tegas Wahyu.
Ia memandang, diversifikasi pasar ke negara lain seperti Tiongkok dan India sebagai kebutuhan yang mendesak.
“Pemerintah harus mensegmentasi strategi promosi dan memperkuatnya melalui kampanye digital lintas platform,” jelasnya.
Wahyu juga menyoroti rendahnya angka kunjungan di Tanjungpinang, yang hanya mencapai 4.030 orang atau 2,55 persen.
“Ibu kota provinsi masih menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan daya tarik wisatanya sendiri,” ungkapnya.
Selain promosi, pengelola harus memperhatikan standar kebersihan kawasan dan kepastian harga, di lokasi wisata sebagai catatan penting.
“Tanpa pembenahan menyeluruh, Kepri berisiko tertinggal dalam kompetisi regional yang semakin agresif,” pungkasnya. (sih)





