TANJUNGPINANG (HAKA) — Kemarau ekstrem awal tahun hingga April 2026 lalu, memicu penyusutan drastis elevasi air Waduk Sei Pulai dan Waduk Sei Gesek di Pulau Bintan
Kondisi kritis ini mengancam pasokan air minum untuk ribuan pelanggan. Dampak buruk kekeringan juga memicu lonjakan kasus penyakit diare pada sejumlah wilayah.
Sialnya, proyek alternatif penyuplai air baku justru mangkrak total. Mesin canggih SWRO Batu Hitam mengalami korosi hebat dan berhenti beroperasi sejak akhir 2024.
Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji menilai pemerintah daerah gagal mengantisipasi risiko kekeringan.
Fragmentasi kewenangan memperparah kelangkaan pelayanan publik sektor air bersih ini. Baca ulasan lengkapnya DI SINI.
Penulis: Arsih Zul Adha





