TANJUNGPINANG (HAKA) – Terpilih secara aklamasi pada Musyawarah Daerah (Musda) ke-V, Ade Angga resmi menahkodai DPD Partai Golkar Kepri periode 2025-2030, Selasa (21/4/2026).
Ia terpilih sebagai Ketua Umum DPD partai berlambang pohon beringin ini, usai menjadi calon tunggal dalam daftar pemilihan ketua.
Dalam pesannya, Ade mengaku akan berupaya untuk menjalankan amanah yang ia emban dengan penuh keseriusan.
“Amanah ini akan diwujudkan dalam bentuk program kerja nyata untuk memenangkan Partai Golkar di Provinsi Kepri,” ujarnya.
Ia menyebut, terdapat berbagai pekerjaan besar harus segera terlaksana secara kolektif.
“Sekarang tugas kita harus segera mengkonsolidasi organisasi dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke tingkat paling bawah,” jelasnya.
Ade menegaskan, jika pekerjaan itu tidak terlaksana dengan cepat dan tanggap, maka partai politik lain akan mendahului untuk menyiapkan calon legislatif di setiap daerah pemilihan.
“Tidak boleh ada dapil yang hanya diisi satu atau dua calon. Setiap dapil, harus diisi oleh kader-kader terbaik yang siap bersaing,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mendorong lahirnya kader-kader baru, termasuk generasi muda yang kuat dan potensial.
“Kader senior tetap dihargai, namun jika tidak lagi produktif secara politik, maka kepentingan partai harus menjadi prioritas utama,” ucapnya.
Fokus utama Ade Angga saat ini adalah meningkatkan perolehan kursi partai di Provinsi Kepri.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji saat meresmikan Musda ke-V mengajak seluruh kader mengevaluasi total gerakan partai selama lima tahun terakhir.
Ia mengatakan, pengurus tidak boleh hanya mengandalkan strategi lama untuk menghadapi situasi yang sudah berubah.
“Program sehebat apapun tidak akan relevan jika kita terapkan tanpa melihat konteks waktu dan keadaan,” bebernya.
Sarmuji juga menyoroti perbedaan karakter generasi muda saat ini. Ia melihat anak muda sekarang jauh lebih melek informasi ketimbang generasi sebelumnya.
Ia menegaskan, perubahan ini menuntut partai untuk lebih adaptif, terutama dalam penguasaan teknologi informasi.
“Jika dulu anak bertanya pilihan politik kepada orang tua, sekarang justru orang tua yang kerap meminta masukan dari anaknya,” tutupnya. (dim)





