TANJUNGPINANG (HAKA) – Sepanjang tahun 2025, aksi bullying atau perundungan semakin banyak terjadi di Provinsi Kepri.
Sekretaris DP3AP2KB Provinsi Kepri, Eva Rabianti mengatakan, jumlah kasus itu tercatat sebanyak 25 kasus dalam periode Januari 2025 hingga pertengahan Desember 2025.
“Sepanjang tahun 2024 hanya ada 19 kasus, terjadi peningkatan pada tahun ini,” ujarnya, kepada hariankepri.com, Kamis (11/12/2025).
Lebih lanjut ia menyebutkan, jumlah itu merupakan hasil pendataan aplikasi Simfoni PPA.
“Data ini masih kurang pasti, karena itu hanya kasus yang muncul ke permukaan saja,” katanya.
Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan menjadi daerah yang paling banyak terjadi kasus bullying tersebut.
“Kedua daerah ini masing-masing 7 kasus, menyusul Kabupaten Natuna dengan total 4 kasus,” jelasnya.
Ia menilai, kemungkinan masih banyak perempuan maupun anak yang mengalami tindakan bullying, namun tidak berani melapor.
“Mungkin karena alasan tertentu makanya tidak berani untuk memberi tahu,” sebutnya.
DP3APB2KB telah aktif melakukan sosialisasi secara masif ke sekolahan maupun kegiatan masyarakat.
“Tujuannya agar tindakan tersebut dapat kita tekan, kurangnya edukasi termasuk salah satu faktor penyebab terjadinya bullying,” ungkapnya.
Eva menegaskan, pihaknya bekerja keras agar para korban bisa membebaskan diri dari tekanan.
“Kita tidak ingin mereka pasrah dengan perlakuan seperti itu,” sambungnya.
Menurutnya, penanganan masalah perempuan dan anak bukan tugas yang mudah.
“Butuh komitmen bersama terutama peningkatan partisipasi masyarakat. Jika kita saling peduli, maka kasus ini bisa kita tangani dengan cepat,” tukasnya. (dim)





