TANJUNGPINANG (HAKA) – Minimnya pengalaman kerja dan ketatnya seleksi di perusahaan swasta, membuat kedai kopi menjadi pilihan kerja yang realistis bagi para anak muda saat ini di Kota Tanjungpinang.
Menurut Thoriq (23), lulusan tahun 2024 dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, jurusan Ilmu Administrasi Negara, mengaku, bekerja di kedai kopi merupakan salah satu langkah awal bagi dirinya untuk mencari pengalaman bekerja.
“Saya sudah sempat mengantar lamaran pekerjaan ke perusahaan besar di Pulau Bintan, seperti ke PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) dan lain-lainnya, tapi susah sekali tembusnya,” ujarnya, kepada hariankepri.com, kemarin.
Ia mengatakan, berbagai persyaratan yang diminta oleh perusahaan juga sudah dilengkapi, namun tetap saja hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan.
Selain itu, pengalaman kerja juga sangat dibutuhkan agar bisa diterima oleh perusahaan swasta yang membuka lowongan pekerjaan.
“Saya sudah antar lamaran pekerjaan ke perusahaan-perusahaan di Pulau Bintan, bahkan ke Kota Batam juga, tapi sampai sekarang belum juga di panggil,” tuturnya.
Sehingga, salah satu cara agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup, dirinya memilih bekerja di sebuah kedai kopi yang terletak tak jauh dari kediamannya, tepatnya di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Tanjungpinang.
“Gaij memang tidak terlalu besar, tapi lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, persyaratan untuk kerjanya juga tidak ribet,” lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Febrian Angga (19), lulusan SMKN 1 Tanjungpinang tahun 2024. Menurutnya, bekerja di kedai kopi merupakan langkah yang tepat seiring mengisi waktu kosongnya selama menjalani perkuliahan saat ini.
“Saya kuliah di UMRAH Tanjungpinang, saya kerja di kedai kopi juga uangnya nanti untuk bayar kuliah,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menegaskan, bahwa dirinya merasa tidak berkeinginan sama sekali untuk mencari pekerjaan di sektor industri. Hal ini, kata dia, mengingat semua persyaratan yang harus dilengkapi pasti akan terasa cukup rumit nantinya.
“Sudah jadi hal umum kalau kerja di perusahaan itu syaratnya ribet, memang gaji besar, tapi pasti buat tembus kerja di perusahaan itu susah, ujung-ujungnya harus ada orang dalam,” tegasnya.
Sementara itu, seorang pemilik kedai kopi bernama Day Coffee yang terletak di Jala Raja Haji Fisabilillah, Ade mengungkapkan, bahwa rata-rata pelamar kerja di kedai kopi miliknya di dominasi oleh anak-anak muda yang baru lulus menyelesaikan pendidikan sekolah SMA/Sederajat.
“Saya membantu menciptakan lapangan kerja dari kedai kopi yang saya buka dari tahun 2020 ini. Rata-rata yang melamar ke sini itu umur 19 hingga 24 tahun, mereka juga belum punya pengalaman apa-apa di bidang pekerjaan,” bebernya.
Setelah diterima kerja di kedai kopi miliknya, Ade menjelaskan, bahwa dirinya akan memberikan pelatihan secara khusus kepada para pekerja barunya, seperti tata cara membuat kopi yang sesuai ciri khas toko, membuat makanan, dan melayani pelanggan.
“Untuk gaji yang saya berikan sesuai dengan spesifikasi mereka, terkadang juga saya berikan bonus jika mereka rajin. Kita maklumi juga dengan latar belakang mereka, ada yang masih kuliah dan ada juga yang memang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” paparnya.
Untuk persyaratan bekerja di kedai kopinya juga cukup mudah dan tidak ribet, para pelamar hanya cukup membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan menjalani sedikit tes wawancara agar dirinya bisa mengetahui bagaimana latar belakang pencari kerja tersebut.
“Sejauh ini sudah ada puluhan orang yang melamar, tapi kebutuhan saya hanya 5 orang saja. Yang sudah kerja saat ini, umurnya 19 tahun sampai 25 tahun, ada juga yang sudah bekerja selama 2 tahun disini karena betah,” sebutnya.
Di sisi lain, berdasarkan data yang diperoleh dari Disnakertrans Provinsi Kepri, tercatat ada sebanyak 20.683 orang pencari kerja dengan rentang usia dari 15 hingga 20 tahun.
Selain itu, terdapat pula sebanhyak 6.112 orang pencari kerja dari rentang usia 20 hingga 29 tahun di Provinsi Kepri ini sepanjang tahun 2024.
Kepala Disnakertrans Provinsi Kepri, Diky Wijaya mengungkapkan, tercatat ada sebanyak 24.752 orang dengan lulusan SMA se derajat yang telah melamar pekerjaan ke perusahaan swasta di Provinsi Kepri.
“Kita juga mencatat ada sebanyak 2.209 orang lulusan S1 yang melamar ke perusahaan,” sebutnya.
Selain itu, ia menyebutkan, berdasarkan data yang diperolehnya per Agustus 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Kepri tercatat berada pada angka 6,39 persen. Menurutnya, lapangan pekerjaan di provinsi ini masih tumbuh positif daripada provinsi lainnnya.
“Hal ini terlihat dari masuknya investasi ke Kepri yang cukup signifikan. Namun, ada sedikit kendala yang mendasar atas masuknya investasi ini terhadap serapan lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Adapun kendala ini, kata dia, yakni kebutuhan industri tidak sesuai dengan ketersediaan kualifikasi dan kompetensi para pencari kerja. Sehingga, para pencari kerja tentunya akan merasa kesulitan dalam meraih pekerjaan swasta yang diinginkan.
“Hal seperti ini banyak terjadi di Batam, Karimun dan Bintan meliputi industri galangan kapal dan perhotelan yang terus berkembang,” tutup Diky. (dim)





