MAKASSAR (HAKA) — Perubahan lanskap media digital, menuntut pengelola media lokal merombak strategi produksi konten.
Kebiasaan memproduksi berita seragam, mengancam keberlangsungan bisnis dan jurnalisme daerah.
Pemred suara.com Suwarjono menyampaikan kritik tersebut, dalam diskusi Local Media Summit di Makassar, Rabu (12/8/2026).
Ia menyebut, mayoritas media lokal masih terjebak pada pola pemberitaan yang sama atau menerbitkan rilis pemerintah dan swasta.
“Misalnya di satu daerah ada 50 media, tetapi 80 persen kontennya sama. Makanya industri media lokal tidak naik-naik,” ujar Suwarjono.
Menurutnya, persaingan media lokal kini hanya berfokus pada adu cepat dan kuantitas publikasi.
Padahal, media nasional kesulitan menembus isu lokal yang mendalam, tokoh daerah, serta budaya setempat.
Media lokal seharusnya mengambil peran sebagai official storyteller, atau penyampai cerita utama di daerahnya sendiri.
Ketergantungan finansial media daerah terhadap APBD juga masih sangat tinggi dan mencapai 90 persen.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah, berpotensi menghentikan alokasi belanja publikasi media.
Pengelola media lokal tidak boleh lagi mengandalkan dana pemerintah daerah yang nilainya terus menyusut setiap tahun.
Suwarjono juga mendorong pengelola media lokal, memanfaatkan platform digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Media lokal wajib melakukan diversifikasi pendapatan, dengan memiliki tiga hingga empat sumber pemasukan berbeda,” ucapnya.
Langkah tersebut penting, agar operasional redaksi tetap berjalan stabil saat pendapatan dari satu sektor mengalami penurunan.
Media lokal di daerah kepulauan seperti Kepri harus membidik audiens ceruk secara spesifik serta membangun loyalitas pembaca. (sha)






