TANJUNGPINANG (HAKA) – Di tepian Jalan Lingkar Gurindam 12, Kota Tanjungpinang, berdiri barisan kontainer coklat. Catnya mulai memudar, mengelupas, terkena panas dan angin laut.
Kontainer-kontainer ini berdiri sebanyak 60 unit, yang merupakan bantuan langsung dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tanjungpinang.
Ironisnya, beberapa kontainer bahkan telah menghilang dari lokasi. Seolah diam-diam pergi, menyisakan kenangan dan pertanyaan besar di publik, tentang kemana arah tujuan program bantuan pemerintah itu.
Kontainer ini dihadirkan pada akhir tahun 2024 yang lalu, dengan harapan dapat menjadi solusi penataan pedagang kaki lima dan pemberdayaan UMKM. Namun, tempat yang semestinya menjadi ruang usaha, justru hanya
menjadi pajangan kegagalan pemerintah dalam mengelola pelaku usaha.
“Iya, hanya ditaruh tanpa digunakan sama aja pemerintah hanya memajang kegagalan,” kata
Heri, warga yang kerap beraktivitas di Taman Gurindam 12.
Ia menilai, bahwa distribusi kontainer tersebut tidak tepat sasaran. Sampai sekarang yang jualan di situ bisa dihitung dengan jari, padahal jumlah kontainernya puluhan.
“Sisanya kosong dan terbengkalai,” ucapnya.
Menurutnya, program ini seharusnya jadi peluang emas bagi para pedagang kecil untuk bangkit dan mandiri. Namun, realita di lapangan menunjukkan sebaliknya.
“Ada banyak kontainer disini yang dibiarkan kosong, bahkan tak digunakan untuk aktivitas produktif,” tuturnya.
Kritik serupa juga datang dari Irma, salah satu pelaku UMKM di Jalan Hang Tuah. Ia berharap, agar pemerintah segera melakukan evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat untuk pendistribusian kontainer tersebut.
“Kalau dibiarkan begini terus, malah menimbulkan ketimpangan sosial. Ini program besar, tapi hasilnya tidak kelihatan. Lebih baik data ulang pedagang yang benar-benar butuh, baru disalurkan ke yang serius mau jualan,” tegasnya.
Sebelumnya, salah satu hal yang menarik perhatian publik adalah yakni pemilihan warna coklat pada seluruh kontainer tersebut. Bahkan awal penempatannya juga sempat dikritik oleh salah seorang tokoh budayawan di Tanjungpinang.
Saat dimintai tanggapannya, Roni, pengelola kontainer di kawasan itu menjelaskan, pemilihan warna kontainer ini dilakukan saat masa Pilkada 2024, sehingga warna coklat dipilih untuk menghindari kesan politis.
“Coklat dipilih karena netral, tidak mewakili partai atau kelompok mana pun. Sekarang setelah Pilkada usai, pemilik kontainer sudah boleh mengganti warnanya,” jelas Roni kepada hariankepri.com, beberapa waktu lalu.
Namun, warna coklat ini hanya lapisan luarnya saja. Di balik cat bermakna netral itu, ada masalah yang lebih mendasar. Yaitu lemahnya penataan dan kurangnya dorongan nyata dari pemerintah agar pedagang benar-benar memanfaatkan fasilitas ini.
“Kalau semua pedagang dipindahkan ke sini dan ditata dengan rapi, kawasan Jalan Lingkar Gurindam 12 bisa jadi lebih baik. Masyarakat bisa kembali menikmati taman, laut, dan senja, seperti dulu,” ungkapnya. (dim)





