KARIMUN (HAKA) – Kondisi memprihatinkan tiga sekolah di Desa Tulang, Kabupaten Karimun, memicu reaksi keras dari masyarakat setempat.
Warga Karimun, Irwandi menilai, kondisi ini menjadi bukti kegagalan Pemkab Karimun, menetapkan prioritas pembangunan infrastruktur pendidikan.
Anak-anak di SDN 012 masih harus belajar dalam kondisi sekolah yang sering terendam banjir rob saat pasang atau hujan.
Sementara itu, siswa SMP di desa tersebut bahkan belum memiliki gedung sekolah sendiri sampai saat ini.
“Sangat miris melihat anak-anak belajar di sekolah yang terendam banjir rob,” ujar Masrun kepada hariankepri.com, Senin (18/5/2026).
Padahal, warga sudah sukarela menghibahkan lahan seluas 9.000 meter persegi untuk pembangunan sekolah baru tersebut.
Ia menyebut, dukungan warga berupa hibah lahan luas seharusnya menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk bergerak cepat melakukan pembangunan.
“Fasilitas lahan sudah warga siapkan, tapi pemerintah daerah seolah tutup mata. Kami mendesak Pemkab Karimun segera turun tangan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, pemerintah agar tidak mengesampingkan pendidikan dasar demi program-program lain yang kurang mendesak bagi daerah.
“Pembangunan tersebut harus menjadi prioritas demi kenyamanan dan masa depan anak-anak di Desa Tulang,” pungkasnya.
Sebelumnya, Camat Selat Gelam, Indra, meluruskan informasi bahwa rombongan Komisi X DPR RI meninjau Desa Tulang, bukan Pulau Parit.
Indra menjelaskan, permasalahan pendidikan di wilayah pesisir Kecamatan Selat Gelam mengalami keterbatasan ruang kelas sehingga menggunakan sistem shift belajar.
Indra memaparkan setidaknya tiga sekolah di Desa Tulang memerlukan perhatian serius karena kondisi fisiknya sangat memprihatinkan.
Pertama, SDN 012 menempati lokasi rentan bencana alam serta belum memiliki pagar memadai dan ruang majelis guru.
Kedua, kondisi SDN 008 di Desa Tulang juga membutuhkan renovasi bangunan serta rumah dinas untuk tenaga pendidik.
Permasalahan ketiga menyangkut SMPN 4 Satu Atap yang belum memiliki aset mandiri dan masih menumpang di lahan SDN 008.
“Kami meminta pembangunan gedung SMP baru di lahan sendiri yang sudah warga hibahkan seluas 9.000 meter persegi,” tukasnya. (sih)





