28.3 C
Tanjung Pinang
Kamis, Maret 5, 2026
spot_img

Sekdaprov Kepri, Loyalitas Militan Saja Tak Cukup

DINAMIKA kursi Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kepri memasuki babak paling krusial. Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, akhirnya menyodorkan tiga nama ke meja seleksi. Venni Meitaria Detiawati, Muhammad Darwin, dan Misni.

Langkah ini mengejutkan banyak pihak. Publik bertanya-tanya: ke mana perginya nama Abdullah? Padahal, Kepala Bapenda Kepri itu sebelumnya merupakan kandidat paling “wangi”.

Persiapan Abdullah terlihat matang, mulai dari pergeseran jabatan, hingga penyelesaian Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I, yang konon atas restu Gubernur sendiri.

Lebih dari itu, Abdullah adalah loyalis sejati. Ia berdiri tegak membela Ansar Ahmad dalam perjalanan politik lalu. Namun, lagi-lagi dalam politik, loyalitas rupanya bukan satu-satunya mata uang yang berlaku. Termasuk loyalitas militan.

Ketika “Garis Tangan” Dikalahkan “Garis Kebijakan”

Hilangnya nama Abdullah dari bursa, bukan sekadar soal kalah saing, melainkan sinyal keras bahwa dalam birokrasi kelas tinggi, pengorbanan politik seringkali berujung pada “habis manis sepah dibuang”.

Ansar Ahmad seolah sedang mengirim pesan bahwa kedekatan personal dan keringat di masa perpolitikan, tidak otomatis menjadi tiket emas menuju kursi eselon tertinggi. Ini adalah realitas pahit bagi siapa pun yang merasa telah “berdarah-darah” namun akhirnya hanya menjadi penonton di pinggir lapangan.

Tiga nama yang muncul, Venni, Darwin, dan Misni seolah menjadi perisai birokrasi bagi sang Gubernur. Dengan tidak memilih Abdullah yang terlalu berwarna politik, Ansar mungkin sedang mencoba menjauhkan diri dari tuduhan nepotisme jabatan.

Namun, publik tidak buta. Publik melihat ini sebagai upaya bermain aman yang justru mengaburkan standar meritokrasi yang selama ini digembar-gemborkan.

Pertanyaannya, apakah ketiga kandidat ini benar-benar dipilih karena kapasitas, atau sekadar karena mereka “tidak punya musuh”?. Jika kriteria utamanya adalah sosok yang paling minim resistensi, maka Kepri sedang bergerak menuju kepemimpinan birokrasi yang administratif semata. Bukan kepemimpinan yang progresif dan berani mengambil risiko demi percepatan pembangunan.

Baca Juga:  Polemik Pokir Publikasi 2026: Dilarang Ansar, Disetujui TAPD

Jangan sampai seleksi ini hanya menjadi panggung sandiwara untuk melegitimasi kepentingan yang belum tuntas di balik layar.
Keputusan ini juga menunjukkan betapa rentannya posisi seorang birokrat di bawah bayang-bayang kekuasaan politik.

Hari ini Anda diperintahkan untuk sekolah tinggi dan bekerja keras, namun besok Anda bisa dilupakan hanya karena kalkulasi stabilitas yang sifatnya sementara.

Kalkulasi di Balik Layar

Keputusan Ansar tidak mengusulkan Abdullah memicu spekulasi tajam. Apakah ada tekanan politik dari “langit”? Atau ini bagian dari kompromi besar demi stabilitas pemerintahan? Ansar Ahmad tentu punya kalkulasi sendiri.

Jabatan Sekda adalah Panglima ASN. Sosok ini harus mampu menjembatani kepentingan pusat dan daerah. Venni, Darwin, dan Misni mungkin dianggap memiliki profil yang lebih aman secara politik untuk situasi saat ini.

Meritokrasi yang Terganjal

Kondisi ini menjadi preseden menarik bagi birokrasi di Kepri. Abdullah sudah memenuhi syarat administratif tertinggi, namun realita membuktikan bahwa kompetensi dan kesetiaan bisa kalah oleh momentum. Ansar sepertinya sedang bermain aman untuk menghindari kegaduhan politik di masa transisi. Memilih figur yang “tidak terlalu politis” bisa menjadi strategi untuk merangkul semua faksi.

Menanti Sang Dirijen
Kini, bola panas ada di tangan panitia seleksi dan Presiden melalui Kemendagri. Masyarakat butuh sosok yang mampu mengelola anggaran dengan bersih dan cepat. Siapa pun yang terpilih nanti, tugas berat sudah menanti untuk mengawal visi Kepri ke depan.

Kita tunggu, apakah pilihan Ansar ini adalah langkah jenius atau justru sebuah blunder politik yang meninggalkan luka di barisan pendukung setianya. (Redaksi)

spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru