TANJUNGPINANG (HAKA) – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Kepri, mengevaluasi program sanitasi masyarakat.
​Kepala Dinas Perkim Kepri, Said Nursyahdu mengungkapkan, ketidakefektifan konsep satu WC komunal untuk banyak rumah.
​”Dulu sepuluh rumah memakai satu WC, tapi praktik ini tidak cocok dengan kultur kita,” ujar Said, kemarin.
​Menurutnya, urusan gotong royong membersihkan WC itu susah, sehingga warga saling menyalahkan saat fasilitas mampet.
“​Kurangnya rasa memiliki, membuat fasilitas tersebut biasanya rusak tak terawat dalam waktu tiga hingga empat tahun,” jelasnya.
​Dampaknya, sambung Said, warga kembali menggunakan WC cemplung, atau membuang kotoran langsung ke laut.
​”Hal itu tentu sangat tidak sehat dan merusak ekosistem laut kita,” tegasnya.
​Dinas Perkim kini memperkecil skala program sanitasi, dengan menerapkan konsep satu fasilitas untuk maksimal tiga rumah.
​”Syaratnya, pengguna harus keluarga inti, misalnya rumah orang tua yang berdampingan dengan rumah anak-anaknya,” jelasnya.
Menurut Said, ​ikatan keluarga membuat mereka lebih mau bekerja sama merawat fasilitas sanitasi tersebut.
​Pendekatan baru ini jauh lebih efektif dan berkelanjutan dalam menjaga kualitas sanitasi lingkungan di Kepulauan Riau.
​Said berharap inovasi ini menghentikan kebiasaan warga membuang limbah domestik langsung ke laut. (sih)





