DI bawah lampu Jalan Bintan dan Jalan Pos, denyut nadi ekonomi Tanjungpinang tampak lesu. Namun, di balik pintu-pintu hotel melati yang catnya mulai mengelupas, ada napas kehidupan lain yang sedang berjuang melawan krisis.
Bukan lagi pelancong atau wisatawan yang mengisi buku tamu, melainkan para perempuan seperti Asri dan Bunga. Bagi mereka, hotel bukan sekadar tempat singgah semalam, melainkan kantor sekaligus kos-kosan.
Fenomena beralih fungsinya hotel melati menjadi hunian kos-kosan jangka panjang, bagi Pekerja Seks Komersial (PSK) kian marak seiring anjloknya tingkat hunian usai pandemi.
Dengan tarif sewa bulanan sekitar Rp800 ribu, hotel-hotel ini bertransformasi menjadi zona nyaman, untuk menjaring pelanggan via aplikasi daring. Namun, praktik ini bukan tanpa risiko.
Tragedi kematian seorang perempuan muda di kamar hotel baru-baru ini, menyingkap tabir gelap kelelahan fisik dan minimnya pengawasan di hunian tak resmi ini.
Sejauh mana pemerintah daerah mampu menertibkan fungsi perhotelan yang kian melenceng? Simak laporan mendalam selengkapnya DI SINI!.
Penulis: Dimas





