TANJUNGPINANG (HAKA) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri mulai memetakan, potensi munculnya penyakit baru, akibat fenomena perubahan iklim di wilayah pesisir.
Plt Kadis Kesehatan Kepri, Yosei Susanti, mengaku, Dinkes menjalankan langkah ini melalui penguatan surveilans dan penyelidikan epidemiologi.
“Upaya tersebut bertujuan, memastikan sistem kesehatan di Kepri, siap menghadapi dampak kenaikan air laut serta perubahan lingkungan,” imbuhnya.
Yosei menyampaikan, bahwa pihaknya telah meningkatkan sistem kewaspadaan dini di setiap puskesmas pada seluruh kabupaten/kota.
“Kami sudah memetakan potensi munculnya penyakit dengan penguatan surveilans, serta meningkatkan sistem kewaspadaan dini di setiap puskesmas,” ujar Yosei kepada hariankepri.com, kemarin
Yosei menjelaskan, Dinkes Kepri mengandalkan sistem Early Warning Alert Response System (EWARS) untuk mendeteksi ancaman tersebut.
Menurutnya, sistem ini akan mengirim sinyal, atau peringatan jika terjadi tren kenaikan kasus penyakit tertentu maupun temuan penyakit baru di tengah masyarakat.
“Melalui sistem ini, puskesmas akan mengirim sinyal kewaspadaan jika mendeteksi kenaikan kasus atau timbulnya penyakit baru,” jelasnya.
Terkait kondisi di wilayah pesisir dan pulau-pulau, Yosei mengungkapkan bahwa pihaknya belum menemukan peningkatan kasus penyakit tular vektor yang signifikan secara mendadak.
Namun, sistem pemantauan tetap menangkap beberapa sinyal penyakit yang menjadi perhatian serius tenaga medis di lapangan.
Tenaga medis terus memantau perkembangan beberapa penyakit seperti diare akut, Demam Berdarah Dengue (DBD), hingga malaria.
“Sinyal yang sering muncul saat ini adalah diare akut, DBD, serta malaria. Namun untuk penyakit tular vektor lainnya belum ada peningkatan signifikan,” tuturnya. (sih)





