MATAHARI pagi terasa menyengat di Halaman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Selasa (19/8/2025) lalu.
Namun di bawah tenda besar, semangat ribuan mahasiswa baru tetap terjaga. 2.457 mahasiswa dari enam fakultas duduk rapi dengan seragam putih-hitam yang dibalut almamater berwarna biru, menyimak kuliah umum perdana yang akan mereka kenang.
Di hadapan mereka, Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Sekdaprov Kepri), Adi Prihantara, berdiri mantap. Suaranya lantang, tapi sarat makna. “Di tangan kalianlah masa depan Kepri ditentukan,” ujarnya.
Sejenak suasana hening. Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Bagi mahasiswa baru yang sebagian besar datang dari pulau-pulau seantero Kepri, pesan tersebut seperti beban tanggung jawab yang nyata.
Visi 2045 dan Laut sebagai Nafas Kepri
Adi tak bicara sembarangan. Bagi dia, wacana Indonesia Emas 2045 bukan slogan kosong. Dengan lebih dari 96 persen wilayah Kepri berupa laut, masa depan ekonomi, energi, hingga pertahanan Indonesia bisa berangkat dari provinsi ini.
“Ekonomi Kepri bisa diangkat tak hanya dari hasil perikanan saja, namun juga dari potensi maritim lainnya,” tegasnya.
Pesan itu terasa tepat sasaran. UMRAH bukan sekadar kampus di pinggir laut. Kampus negeri ini berdiri di jantung kepulauan strategis, menghadap langsung jalur pelayaran internasional tersibuk di dunia.
Sejak didirikan, UMRAH diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi generasi muda kepulauan. Bukan hanya sekadar membawa nama “maritim”, tapi benar-benar melahirkan inovasi untuk kemajuan laut Nusantara.
Adi sadar harapan itu besar, namun tantangan yang dihadapi Kepri tak kecil. Sektor perikanan masih didera persoalan klasik. Seperti nelayan kecil kalah bersaing dengan kapal besar, harga ikan jatuh, hingga pelabuhan perikanan yang belum memadai.
Di sektor energi laut, peluang besar seperti pemanfaatan arus laut dan angin pesisir masih minim digarap. Sementara pariwisata bahari di Anambas dan Natuna yang kerap disebut sebagai “Maladewa-nya Indonesia” masih terbatas akses dan promosi.
“Inovasi untuk menjawab tantangan itu hanya bisa lahir dari mahasiswa yang sedang duduk di bangku kuliah ini,” katanya.
Di hari itu juga, halaman Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMRAH menjadi ruang pertemuan antara mimpi besar dan kenyataan. Di satu sisi ada pejabat daerah dan akademisi yang membawa visi pembangunan, di sisi lain ada ribuan mahasiswa baru yang mengawali perjalanan akademik mereka.
Generasi muda Kepri diharapkan bukan hanya jadi penonton sejarah. Mereka harus menjadi penulis sejarah baru, di mana laut tidak lagi sekadar cerita romantis tentang nelayan dan ombak, melainkan sumber kejayaan bangsa.
Sebelum menutup pidatonya, Adi kembali menegaskan harapan agar mahasiswa UMRAH menjadi generasi emas 2045.
“Ayo, jadikan kampus ini sebagai tempat untuk belajar dan memperdalam ilmu pengetahuan. Ciptakan inovasi baru, khususnya untuk peningkatan ekonomi maritim. Kepri harus jadi Permata Biru Nusantara,” ujarnya.(kar)





