Beranda Opini

Pentingnya Terobosan dan Sinergitas Dalam Membasmi Karhutla

0

Tantri Teza Anugrah

Oleh:
Tantri Teza Anugrah
Mahasiswi Administrasi Publik Semester II, Stisipol Raja Ali Haji Tanjungpinang

MELIHAT situasi dan kondisi (sikon) cuaca saat ini, maka tidak dapat dipungkiri bahwa, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tanjungpinang akan terjadi kembali.

Sebab, dengan kondisi kemarau dan sekitar dua bulan tidak mengalami curah hujan, tentu akan menimbulkan hawa panas yang dengan mudah berujung kebakaran lahan.

Dari sikon itu, diharapkan tindakan yang sigap dari pemerintah dan stakeholder serta warga untuk mencegah musibah itu.

Dilihat dari data Pemko Tanjungpinang, yang disampaikan oleh Wali Kota Tanjungpinang, Rahma beberapa pekan lalu, bahwa karhutla di Kota Tanjungpinang terjadi peningkatan.

Dari Januari sampai Februari 2021, ada 48 kali kejadian. Di antaranya 40 kejadian karhutla, 6 kejadian kebakaran bangunan rumah, dan terakhir 2 kebakaran kejadian lainnya.

“Bila dibandingkan pada tahun 2020 periode Januari-Februari ada peningkatan persentase kejadian karhutla,” ungkap Rahma saat memimpin apel kesiapsiagaan penanggulangan karhutla di Wilayah Hukum Polres Tanjungpinang, Rabu (24/2/2021) lalu di Mapolres Tanjungpinang.

Menurut orang nomor satu di Kota Tanjungpinang itu, kebakaran ini terjadi salah satunya karena faktor alam, cuaca panas dan angin kencang. Ada juga karena kelalaian manusia baik sengaja, maupun tidak disengaja.

Ia pun mengimbau dan meminta kepada seluruh masyarakat Kota Tanjungpinang, khususnya pemilik lahan agar bisa menjaga jangan sampai ada penambahan titik kebakaran.

Nah, merujuk dari data dan imbauan yang diberikan oleh pemimpin Tanjungpinang itu, perlu kiranya ditingkatkan lagi sinergitas dan sosialiasi antara pemerintah dan warga Tanjungpinang.

Pasalnya, kalau hanya memberikan imbauan dan tidak melakukan sosialisasi secara masif ke warga, karhutla bisa saja terjadi lagi.
Paling tidak, di setiap kelurahan memberikan arahan ke RT-RW tentang bahaya karhutla.

Lalu, pemerintah juga bisa menempatkan pos-pos penjagaan di setiap hutan yang dianggap rawan kebakaran. Baik itu penjaganya petugas instansi terkait, maupun warga yang bersedia jadi relawan.

Nah, apabila hal itu dilakukan, menurut hemat saya kemungkinan besar karhutla tidak akan terjadi lagi, berikut dampak negatif dan kerugian dari karhutla itu sendiri.(***)

Loading...


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here