TANJUNGPINANG (HAKA) – Pemerintah Kota Tanjungpinang, akan menyelidiki penyebab kenaikan harga daging ayam potong yang belakangan terjadi di Kota Tanjungpinang.
Demikian dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungpinang, Zulhidayat.
Ia menyatakan bahwa harusnya, pasokan ayam ke Tanjungpinang tidak mengalami kendala. Sebab, sebagian besar stoknya berasal dari Kabupaten Bintan, termasuk dari perusahaan besar seperti Japfa.
“Bintan itu wilayah produksi. Japfa ada di sana, dan jarak ke Tanjungpinang juga relatif dekat, maka seharusnya harga bisa lebih terkendali. Tapi tentu nanti kita akan cek data dan kondisi di lapangan,” ujarnya, kepada hariankepri.com, Senin (15/9/2025).
Ia menambahkan, bahwa lonjakan harga juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan, terutama dari sektor-sektor yang membutuhkan pasokan ayam dan telur dalam jumlah besar setiap harinya.
“Kebutuhan daging ayam dan telur saat ini memang tinggi. Salah satu dapur SPPG kita misalnya, per hari bisa membutuhkan pasokan yang besar,” jelasnya.
Sebagai langkah dari pemerintah, pihaknya akan mendorong Koperasi Merah Putih untuk bekerja sama dengan perusahaan produksi ayam, dalam pengembangan budidaya ayam di Kota Tanjungpinang.
Diberitakan sebelumnya, harga daging ayam potong di Pasar Bintan Center (Bincen) Tanjungpinang terpantau naik pada akhir Agustus 2025 yang lalu.
Hendra, salah satu pedagang ayam di pasar tersebut mengutarakan, bahwa lapak penjualan daging ayamnya membeli stok dari peternakan ayam yang ada di wilayah Batu 20, Kabupaten Bintan.
“Pasokan ayam sebenarnya masih lancar, cuma saya kurang tahu kenapa harga tiba-tiba naik. Untuk harganya, daging ayam potong dapat dibanderol dengan harga sekitar Rp 40 ribu. Naiknya sekitar Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” ucapnya. (dim)





