BINTAN (HAKA) – Rencana pemindahan makam leluhur Suku Laut Kawal di Gunung Kijang, kembali memicu perbincangan hangat di tengah masyarakat Bintan.
Pegiat Lingkungan, Novi Asti Lalasati, mengaku, sudah menerima aduan langsung dari sejumlah tokoh komunitas Orang Suku Laut.
“Tokoh komunitas mengirim pesan berisi kekhawatiran, terkait informasi lisan, soal rencana pemindahan makam tersebut,” ujar Asti kepada hariankepri.com.
Asti mengungkapkan bahwa informasi lisan yang beredar di masyarakat, mencantumkan adanya tenggat waktu tertentu bagi warga.
“Informasi itu menyebutkan batas waktu pengambilan keputusan selama enam hari sejak tanggal pengumuman,” jelas Asti.
Isu mengenai keberlangsungan ruang hidup masyarakat adat ini, memang telah menarik perhatian publik sejak beberapa waktu lalu.
Asti menegaskan, bahwa pemerintah dan publik harus memberikan perhatian serius terhadap kondisi psikologis warga yang sedang khawatir.
“Saya tidak dapat mengabaikan begitu saja di keresahan keluarga Suku Laut Kawal atas nasib makam leluhur mereka,” tambahnya.
Berbagai jaringan aktivis kini mulai memberikan dukungan moral secara mengalir kepada masyarakat adat Suku Laut di Kawal.
“Kami bergerak menyuarakan keresahan ini demi mendampingi saudara-saudara kami dari komunitas Suku Laut,” tegasnya.
Para pegiat lingkungan menyoroti secara tajam, potensi dampak kerusakan lingkungan di sekitar area situs budaya masyarakat tersebut.
“Setiap orang yang menyadari ancaman kerusakan ekologis pada lahan makam leluhur pasti turut merasakan duka mendalam,” tuturnya.
Gerakan solidaritas ini kata Asti, murni bertujuan membela kemanusiaan serta mencegah kerusakan masif ekosistem laut di wilayah Bintan Pesisir.
“Menyuarakan keresahan masyarakat Suku Laut merupakan upaya kolektif yang bersifat organik serta sukarela bagi kami semua,” pungkasnya. (sih)





