TANJUNGPINANG (HAKA) – Lesunya pergerakan ekonomi menghantam sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemilik Kedai Kopi Anggrek, Ali, mengakui penurunan omzetnya sangat drastis dalam beberapa bulan terakhir, hingga hampir 50 persen.
“Memang betul berkurang. Dulu pendapatan kotor bisa Rp2 juta lebih sampai Rp3 juta sehari,” kata Ali.
Pada masa stabil, Ali bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp1 juta per hari. Namun, saat ini, untuk mencapai keuntungan Rp500 ribu saja sangat sulit.
“Kondisi ini sudah terasa sejak dua sampai tiga bulan yang lalu,” jelasnya saat ditemui di kedai kopinya, Kamis (27/11/2025).
Ali menilai, penurunan drastis ini tidak hanya karena kondisi ekonomi. Namun, juga adanya kebijakan dan aturan disiplin pegawai pemerintah.
“Dulu, pegawai keluar masuk makan, sarapan. Sekarang kan tidak boleh (keluar),” jelasnya.
Ali menerangkan, adanya razia kedisiplinan atau batasan jam keluar yang ketat, membuat pegawai harus di dalam kantor.
“Pegawai baru boleh keluar setelah pukul 11 siang ke atas,” katanya.
Ali menilai, kebijakan ini memengaruhi perilaku belanja pegawai. Saat ini belanja pegawai berkurang.
Meski mengalami guncangan, Ali tetap menjaga kedainya tetap bertahan. Dia berpegangan pada dua strategi utama yakni, menjaga kualitas kopi.
“Supaya tidak mengecewakan pelanggan dan konsumen lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Ali, juga mengedepankan pelayanan dan pergaulan dengan pelanggan. Dia menerapkan sikap tidak perhitungan, bahkan membiarkan pelanggan duduk berjam-jam.
“Saya enggak terlalu perhitungan. Nanti rezeki itu kan datang dari kawan-kawan,” tambahnya.
Ali juga telah melakukan survei ke UMKM sejenis atau kedai kopi lainnya. Hasilnya, kedai-kedai besar tersebut juga mengalami sepi pengunjung.
“Saya pelajari, oh kedak Kopi Batu 10 yang besar saja sepi. Berarti merata (penurunannya),” pungkas Ali.
Untuk menekan biaya, Ali mengurangi item yang tidak terlalu penting, seperti rokok. Dia juga beruntung karena tempat usahanya tidak menyewa. (rul)





