25.8 C
Tanjung Pinang
Sabtu, Januari 24, 2026
spot_img

Nestapa Karyawan Prendjak, Terhalang Tembok Pagar di Bahu Jalan

SIANG hari yang cerah, Ara Fazia berdiri tak jauh dari gerbang masuk pabrik PT Prendjak Tanjungpinang.

Ara menatap gerbang besi besar, yang biasanya terbuka lebar untuk menyambut semua orang.

Namun, kini gerbang itu telah tertutup dengan rapat, tidak seorangpun terlihat bisa melintasinya.

Hanya ada satu orang satpam berjaga, untuk mengawasi setiap kali orang ingin keluar masuk perusahaan.

Saat terik matahari menyinari pabrik, Amira menatap pagar itu tanpa mengenakan seragam kerjanya yang biasa ia pakai sehari-hari.

Sebagai orang tua tunggal, Ara adalah nahkoda sekaligus pelindung bagi keluarga kecilnya. Setiap pagi ia bangun dengan semangat demi membawa pulang harapan di sore hari.

Namun, sejak ada tembok pagar pada 16 Desember 2025, impiannya perlahan mulai kabur tertutup tembok yang memblokir akses masuk perusahaan.

Kegelisahan Ara memuncak saat perusahaan memutuskan untuk merumahkan karyawan, sejak 27 Desember 2025 lalu.

Upah harian senilai ratusan ribu rupiah, yang biasanya cukup untuk menyambung dapur kini hilang seketika.

Meski perusahaan menjanjikan libur hingga 5 Januari 2026, batin Ara berteriak, karena ia tahu ada ancaman lebih besar jika konflik akses ini tidak kunjung usai.

Setiap hari sebelum dirumahkan, Ara dan rekan-rekannya harus memutar jauh melintasi Jalan WR Supratman demi masuk melalui pintu belakang.

Jarak yang bertambah jauh sering kali membuat mereka terlambat, menambah beban pikiran di tengah ketidakpastian.

Ia teringat kawan-kawannya dari Kijang yang harus berjuang lebih keras lagi demi mencapai tempat kerja.

Sejak beberapa tahun lalu, ia berpisah dengan suami dan harus merawat kedua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Selama empat tahun menapakkan langkahnya di pabrik itu, banyak kisah dan pengalaman yang sudah ia dapatkan.

“Saya bergantung hidup dengan pekerjaan ini,” katanya, kepada hariankepri.com, Sabtu (3/1/2026).

Ia merasa cemas, takut, dan kesal, saat akses masuk pabrik itu telah terblokir oleh pembangunan tembok setinggi 1 meteran.

Pada 16 Desember 2025, tepatnya hari tembok itu berdiri, Ara mengiranya hanya sebatas pembangunan biasa oleh pihak perusahaan.

Baca Juga:  Tak Ada Izin, Satpol PP akan Bongkar Tembok Pagar di Depan PT Prendjak Tanjungpinang

Namun, kenyataan justru menjadi pukulan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ternyata ada pemblokiran akses masuk dari orang luar perusahaan,” ucapnya.

Situasi itu tidak hanya menghentikan aktivitas harian Ara, tetapi juga memutus aliran penghasilan yang selama ini menopang hidupnya.

Sejak 27 Desember 2025, ia tidak masuk kerja dan terpaksa kehilangan upah kerja senilai ratusan ribu.

Nilai rupiah itu bagi Ara, terbilang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Selama libur bekerja saat ini, Ara berusaha tetap tersenyum di depan anak-anaknya, meski pikirannya penuh dengan tanda tanya.

Di rumah, kedua anaknya belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Mereka hanya tahu ibunya kini lebih sering diam dan terlihat lelah.

“Anak-anak tidak perlu tahu semua. Tugas saya melindungi mereka,” serunya dengan nada lirih.

Ara bukan satu-satunya yang terdampak. Banyak karyawan lain mengalami nasib serupa.

Namun baginya, persoalan ini sangat personal. Pekerjaan itu adalah benteng terakhir yang menjaga keluarganya untuk tetap bertahan.

Ia berharap, ada kebijaksanaan dan solusi cepat dari pihak-pihak terkait. Bukan hanya demi kelangsungan operasional perusahaan, tetapi demi karyawan lainnya.

“Ada banyak juga ibu tunggal yang menafkahi anak-anak mereka, bukan saya sendiri,” jelasnya, menunjuk ke arah pabrik.

Sebelumnya, Regional Manager PT Panca Rasa Pratama, Mustardi, mengatakan telah berkesempatan dengan karyawannya tersebut.

Semenjak ada tembok yang melintang depan pagar itu, para karyawan sangat kesulitan untuk masuk ke perusahaan.

“Banyak yang mengeluh karena jauh, sehingga mereka sering telat datang,” terangnya.

Mustardi menyebut, banyak hasil produksi yang telah menumpuk saat ini. Kendati demikian, muatan produksi tersebut tidak bisa keluar karena keterbatasan akses.

“Jadi kami meminta para karyawan produksi untuk dirumahkan dulu sampai waktu yang belum ditentukan,” tutupnya. (dim)

Dimas Bona
Dimas Bona
Jurnalis hariankepri.com sejak tahun 2023. Dalam kesehariannya, aktif melakukan peliputan dan penulisan berbagai peristiwa kriminal serta isu-isu daerah yang terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Anggota aktif Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang, yang menunjukkan komitmennya terhadap jurnalisme yang profesional dan independen.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru