29.6 C
Tanjung Pinang
Selasa, April 14, 2026
spot_img

Nastar: Tolok Ukur Kehangatan di Ruang Tamu Warga

DI sebuah dapur sederhana di sudut Kabupaten Bintan, Niar Okfirsta memperlambat waktu lewat jemarinya.

Sebagai ibu rumah tangga, ia menghitung hari menjelang lebaran bukan dengan jam, melainkan lewat ribuan bulatan kuning keemasan hasil ketelatenannya.

Nastar bukan sekadar kudapan bagi banyak orang. Namun bagi Niar, kue ini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan dapur masa kini dengan kemewahan masa lalu.

Nama Ananas dan Taart membawa aroma Eropa yang terdampar di tanah tropis. Niar mengisahkan bagaimana resep para none-none Belanda menetap dan mengakar dalam budaya kita.

“Dulu, para none Belanda mengerjakan ini. Karena masa penjajahan yang lama, budaya kue nanas ini turun-temurun ke kita,” tuturnya.

Namun, kejujuran khas seorang ibu terselip di sana. “Memang orang Belanda ini membuat kita capek!” kelakarnya sembari menyeka peluh.

Meski prosesnya menguras tenaga, dari memarut nanas hingga memoles kuning telur dengan presisi, Niar tetap konsisten.

Baginya, kelelahan itu menjadi mahar untuk simbol keceriaan dan kemewahan yang ia sajikan bagi keluarga serta tamu.

Niar memandang nastar lebih dalam daripada sekadar rasa. Baginya, setiap butir kue ini merepresentasikan metafora kehidupan dan kemenangan. Kelezatannya merangkum harmoni antara dua kutub yang berbeda.

“Perpaduan keduanya paling enak. Selainya manis sebagai simbol kebahagiaan. Kulitnya gurih lembut namun kokoh sebagai simbol kemenangan,” ungkap Niar.

Di ruang tamu warga, hukum tak tertulis melampaui basa-basi silaturahmi. Seberapa pun megah hidangan lain tersusun, tamu selalu mencari sang primadona. Nastar telah menetapkan tolok ukur kehangatan sebuah rumah.

“Suasananya jelas beda tanpa nastar. Setiap tamu yang datang pasti bertanya hal pertama, mana nastarmu?,” ujar Niar tertawa.

Bagi Niar, meniadakan nastar bukan sekadar absennya menu, melainkan hilangnya ruh perayaan itu sendiri. Dengan gaya bicara jenaka namun sarat makna, ia menutup percakapan lewat perumpamaan yang terus terngiang.

Baca Juga:  THR Pemko Batam Tuntas, RT RW Dapat Insentif 2 Bulan

“Sebab, Lebaran tanpa nastar, bagai cinta tanpa hati,” kelakar Niar.

Pada akhirnya, di tangan ibu rumah tangga seperti Niar, nastar menjadi wujud paling tulus dari sebuah pengabdian. Ia membuktikan bahwa sesuatu yang membuat capek justru menjadi sesuatu yang paling diminati. (sih)

Arsih Zul Adha, S.H.
Arsih Zul Adha, S.H.
Jurnalis hariankepri.com sejak tahun 2025. Alumni Prodi Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Tata Negara FISIP UMRAH ini aktif meliput dan menulis berbagai peristiwa serta isu-isu seputar politik, hukum, dan pemerintahan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Meraih Juara II Lomba Menulis Jurnalistik dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di Tanjungpinang.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru

' '