27 C
Tanjung Pinang
Minggu, Juli 19, 2026
spot_img

Modal Motor Rusak, Andi Eks Anak STM Kini Miliki Showroom

AROMA oli dan deru mesin menjadi penyelamat masa depan Andi Kurniawan, seorang pemuda kelahiran, Kijang, Kabupaten Bintan.

Jika waktu bisa berputar kembali ke masa putih-abu-abu, hampir tidak ada orang yang berani bertaruh bahwa remaja yang hobi bolos ini akan memimpin pasar otomotif Kepulauan Riau.

​Catatan absen hingga 48 hari dalam satu semester dan tinggal kelas mengotori rapor-nya kala itu.

Bagi sebagian orang, angka itu mengisyaratkan keputusasaan. Namun bagi Andi, dari balik seragam STM yang penuh noda oli itu, ia justru sedang mengasah insting bisnisnya.

​Kini, Andi bukan lagi anak sekolahan yang sibuk mengejar kesenangan semu. Dari balik meja kerjanya, ia mengomandoi dua showroom besar di Tanjungpinang.

Sand Auto untuk roda empat dan Suryadi Motor untuk roda dua. Di sana, ratusan unit kendaraan berjejer rapi menunggu pemilik barunya.

​Ini bukan sekadar cerita tentang kesuksesan materi, melainkan sebuah narasi konstruktif tentang bagaimana konsistensi menekuni hobi mampu membalikkan arah takdir..

​Restorasi Pertama: Modal Nekat dan Sepeda Motor Kredit

​Andi memulai perjalanannya pada tahun 2011. Saat duduk di kelas 3 STM jurusan Otomotif, ia tidak mengantongi modal besar.

Ia hanya mengandalkan kegemaran memacu adrenalin, dan keterampilan tangannya mengotak-atik mesin.

​Andi menerapkan strategi cerdas. Ia berburu motor-motor “terduduk”, istilah lokal untuk motor rusak, telantar, dengan kondisi bodi mengenaskan, tapi memiliki surat-surat yang sah.

Tangan dingin Andi menyulap besi tua yang tak berharga itu hingga kembali berkilau, bertenaga, dan layak jalan, lalu menjualnya kembali.

​”Modalnya dari motor pertama pemberian orang tua. Dulu motornya Satria FU dan belinya juga masih kredit,” cerita Andi kepada hariankepri.com.

“Karena hobi, motor FU itu saya jual, uangnya saya belikan motor-motor jelek untuk merestorasi,” kenangnya.

​Andi tidak serakah. Berbekal modal di bawah Rp10 juta per unit, ia hanya mengambil margin keuntungan yang tipis.

Baginya, kecepatan perputaran uang (cash flow) adalah kunci. Konsep sederhana ini membuahkan hasil manis.

Dari satu unit yang ia poles di garasi rumah, bisnisnya berkembang menjadi dua unit, hingga akhirnya ia mampu menyewa ruko pertamanya pada tahun 2013.

​Berkah Sebuah Vios dan Lompatan Roda Empat

Sand Auto Tanjungpinang-f/arsih-hariankepri.com

​Jika bisnis roda dua menjadi fondasi, maka bisnis roda empat merupakan ketidaksengajaan yang membawa berkah.

Pada tahun 2017, Andi dan istrinya membeli sebuah Toyota Vios secara kredit.

Mereka murni menggunakan mobil itu untuk keperluan keluarga, tanpa ada niat sedikit pun untuk menjualnya. ​Namun, di sinilah hukum reputasi bekerja.

Seorang pelanggan setia yang telah menaruh kepercayaan pada Andi, sejak tahun 2012 melihat mobil tersebut dan langsung jatuh hati.

Pelanggan itu pun mengajukan penawaran. Karena harganya menguntungkan, Andi dan sang istri sepakat melepas mobil pribadi mereka.

​Peristiwa itu menjadi titik balik. Andi mulai membaca ritme pasar mobil yang menjanjikan keuntungan lebih besar.

Secara bertahap, ia mulai menyetok satu hingga dua unit mobil. Andi mengambil langkah strategis, dengan menggandeng seorang sahabat untuk menyatukan modal.

​Perjalanan bisnisnya melewati ruko yang berpindah-pindah, mulai dari Bintan Center dengan modal awal 12 motor, bergeser ke Batu 10, hingga Batu 12.

Kini, ia menancapkan gurita bisnisnya dengan kokoh di dua titik strategis. Sand Auto (mobil) di depan Hanaria yang bersiap pindah ke gedung milik sendiri, dan Suryadi Motor (motor) di kawasan Taman Harapan Indah, Batu 9.

Baca Juga:  Ada yang Jual di Atas HET, Disdagin Perketat Pengawasan MinyaKita

​Sand Auto mengelola 50 hingga 60 unit mobil, yang murni berasal dari modal kongsi mereka berdua, tanpa ada satu pun unit titipan orang lain (konsinyasi).

Sementara di roda dua, Andi secara mandiri mengelola 80 hingga 90 unit motor yang berjejer rapi di showroom-nya.

​Menjinakkan Badai Pandemi dengan Resiliensi

​Belasan tahun menyelami bisnis otomotif, Andi paham betul bahwa pasar tidak selalu mulus bak aspal sirkuit.

Menanggung risiko “jual rugi” akibat unit yang mengendap lama sudah menjadi makanan sehari-hari.

Namun, ujian sesungguhnya datang saat pandemi Covid-19 melumpuhkan dunia. Saat itu, pasar mati suri. Berbulan-bulan ruko sepi tanpa ada satu pun transaksi.

Ketika banyak pengusaha seangkatannya memilih gulung tikar, Andi memilih jalan yang berbeda, yakni bertahan.

​”Tapi saya memilih bertahan terus, tidak ada pikiran mau tutup usaha,” tegasnya.

​Sikap pantang menyerah itu terbayar. Memasuki tahun 2026, di tengah pasar yang melambat dan persaingan yang kian ketat, Andi tetap berada di garis depan.

Dalam sebulan, Sand Auto masih konsisten melepas 10 hingga 15 unit mobil, sedangkan Suryadi Motor rata-rata menjual 20 hingga 30 unit.

​Menjual Kepercayaan di Atas Medan Kepri

​

Suryadi Motor-f/arsih-hariankepri.com

Salah satu rahasia ketangguhan bisnis Andi terletak pada komitmennya terhadap lokalitas.

Ia enggan tergiur mendatangkan mobil murah dari Jakarta. Andi memilih setia menjual unit lokal wilayah Kepri (Batam dan Tanjungpinang).

​Alasannya sangat terukur. Ia tahu persis rekam jejak pemakaian mobil di Kepri dan kondisi medannya.

Untuk mobil, ia fokus pada merek Jepang seperti Toyota (Avanza, Agya) dan Suzuki (Ertiga) yang masuk kategori fast moving.

Mudah merawatnya, suku cadangnya melimpah, dan harga jual kembalinya stabil.

Sebaliknya, ia menghindari mobil Eropa demi menjaga kepuasan pelanggan dari peliknya urusan mekanik dan suku cadang.

​Di dunia bisnis yang kadang abu-abu, Andi menempatkan kepercayaan (trust) sebagai mata uang tertinggi.

Kejujuran mengenai kondisi mesin kepada konsumen lama justru melahirkan loyalitas yang kuat.

​Ia menggerakkan bisnis ini bersama sang istri yang memegang manajemen keuangan, serta mendapat bantuan dari 8 karyawan.

Mereka memanfaatkan kekuatan media sosial dan pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth).

​Arti Sebuah Sukses

​Andi sempat mencoba peruntungan di bisnis kuliner dengan membuka Kedai Kopi “Along Sayang”, namun usaha itu tidak bertahan lama.

Dari sana ia sadar, jiwanya memang sudah menyatu dengan bau oli dan deru mesin. Ia tidak punya rencana untuk pensiun dini atau menjauh dari dunia ini.

​Bagi seorang mantan anak STM yang pernah mendapat pandangan sebelah mata, sukses memiliki definisi yang sangat bersahaja.

​Definisi sukses baginya, yakni, ketika berangkat dari yang awalnya tidak punya apa-apa, dan bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan.

“Alhamdulillah, semua itu sudah tercapai, meskipun tidak hidup mewah,” ucapnya.

​Andi kini merajut sebuah harapan masa depan. Ia berharap, ketiga anaknya kelak bisa meneruskan kerajaan bisnis yang ia bangun. (sih).

Arsih Zul Adha, S.H.
Arsih Zul Adha, S.H.
Jurnalis hariankepri.com sejak tahun 2025. Alumni Prodi Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Tata Negara FISIP UMRAH ini aktif meliput dan menulis berbagai peristiwa serta isu-isu seputar politik, hukum, dan pemerintahan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Meraih Juara II Lomba Menulis Jurnalistik dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di Tanjungpinang.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru