TANJUNGPINANG (HAKA) – Panggilan kemanusiaan membawa Karla Amelia, seorang dosen dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH, menempuh perjalanan jauh menuju Aceh Tamiang.
Bagi Karla, banjir besar yang menerjang pada akhir November 2025 lalu, bukan sekadar berita di layar kaca, melainkan duka bagi tanah kelahirannya.
“Saya lahir dan besar di Karang Baru, Aceh Tamiang. Keluarga besar saya semua ada di sana,” ungkapnya kepada hariankepri.com, kemarin.
Dorongan emosional itulah yang membuatnya nekat berangkat sendirian, dari Batam menuju Medan.
Lalu melanjutkan perjalanan darat yang berat demi mencapai lokasi bencana pada 10 Desember 2025.
Membawa prinsip “sebisa, semampu, dan secukupnya”, Karla bergerak secara mandiri. Ia menyaksikan langsung betapa hancurnya kondisi di lapangan.
Listrik padam total, akses jalan hancur, dan rumah-rumah warga tak lagi layak huni akibat terjangan air.
Sulit mendapatkan kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan siap santap, yang menjadi barang mewah.
Salah satu kisah yang paling menyayat hati Karla adalah, perjuangan seorang relawan bernama Faqi.
Di tengah kepungan banjir, Faqi harus berenang menerjang arus demi mencari apa pun yang bisa dimakan. Hasilnya? Hanya satu sisir pisang muda untuk ratusan pengungsi yang kelaparan.
“Pisang itu akhirnya dibagi secara adil. Bayangkan, setiap orang hanya mendapat bagian sebesar satu ruas jari,” kenang Karla dengan suara bergetar.
Tak ingin hanya terpaku pada logistik, Karla juga membawa misi pemulihan mental. Di tasnya, ia menyelipkan banyak balon.
Di sela-sela pembagian bantuan, ia mengajak anak-anak pengungsi bermain untuk sekadar mengalihkan trauma dari bencana yang melanda.
Bagi Karla, aksi ini adalah panggilan jiwa. Ia berharap pemulihan pascabencana terus berlanjut hingga kondisi psikologis masyarakat kembali stabil.
“Kepedulian sosial dan respons cepat terhadap bencana adalah tanggung jawab moral kita bersama,” tutupnya. (ars)





