28.3 C
Tanjung Pinang
Kamis, Maret 5, 2026
spot_img

Menimbang Monumen Tugu Bahasa di Atas Beban Utang

GUBERNUR Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, memacu ambisi besar. Ia hendak menyulap Pulau Penyengat, menjadi mercusuar budaya melalui proyek Tugu Bahasa.

Secara estetika dan nilai historis, rencana ini memiliki daya pikat. Pulau Penyengat melahirkan bahasa Melayu, yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Namun, kemunculan angka Rp150 miliar dengan sumber dana pinjaman bank, mengubah pujian menjadi diskusi panjang mengenai prioritas.

Ikon wisata baru memang berpotensi menggerakkan mesin ekonomi jangka panjang. Namun, publik perlu mengkritisi beberapa poin krusial.

Pertama, risiko bunga dan pokok pinjaman. Keputusan berutang ke perbankan, artinya menaruh beban cicilan pada APBD tahun-tahun mendatang.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketergantungan pada pinjaman untuk proyek non-pendapatan langsung, seperti monumen, mengancam ruang fiskal bagi kebutuhan mendesak lainnya.

Kedua, publik mempertanyakan urgensi tugu senilai ratusan miliar, sebagai kebutuhan primer masyarakat Kepri saat ini.

Saat infrastruktur dasar, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas pendidikan di pulau terpencil masih menuntut dana segar. Proyek mercusuar ini hanya menunjukkan ambisi mengejar warisan fisik.

Ketiga, mampukah tugu ini menghasilkan pengembalian modal secara sosial dan ekonomi?.

Tanpa manajemen destinasi yang terintegrasi, bangunan megah ini hanya menjadi objek foto sesaat, yang kehilangan pengunjung setelah euforia peresmian berakhir.

Intelektualitas sastrawan seperti Raja Ali Haji membangun kejayaan bahasa Melayu di Pulau Penyengat, bukan kemegahan fisik.

Langkah menghormati sejarah bahasa seharusnya mencakup upaya menghidupkan ekosistem literasi dan riset budaya, bukan sekadar memahat beton menjulang ke langit.

Pemerintah Provinsi Kepri harus membuktikan secara transparan, bahwa pinjaman Rp150 miliar ini, tidak akan menjadi bom waktu bagi gubernur selanjutnya.

Publik menuntut jaminan agar pemerintah tidak mengorbankan piring nasi rakyat demi mengejar prestasi yang berdiri di atas utang.

Baca Juga:  BGN Beri Insentif Rp6 Juta per Hari untuk Dapur MBG

Taufik
Pemred hariankepri.com

Taufik A Habu, S.Psi.
Taufik A Habu, S.Psi.
Lahir di Gorontalo 31 Januari 1982, menamatkan pendidikan Sarjana Psikologi pada tahun 2008 di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi hariankepri.com. Dua kali meraih nominator Dahlan Iskan Award dan RDK Award di tahun 2011, 2012 dan 2013.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru