Oleh:
Mhd. Abror, M.Ag
Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepri
DI tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman yang begitu cepat, manusia modern sesungguhnya menghadapi satu persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu persoalan hati.
Kita hidup pada masa ketika hampir segala sesuatu dapat diperbarui dalam hitungan detik. Kalender diganti setiap tahun, telepon genggam diperbarui dengan model terbaru, foto profil media sosial berganti sesuai tren, bahkan status kehidupan pun selalu ingin ditingkatkan.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan untuk diperbarui, yaitu hati. Banyak orang yang bertambah usia, tetapi tidak bertambah kedewasaan.
Berganti tahun, tetapi tidak berganti sifat. Marahnya masih sama, dendamnya masih tersimpan, prasangkanya masih dipelihara, dan keluhannya masih menjadi teman sehari-hari.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan, bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh, yaitu hati.
Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas hidup seseorang sesungguhnya sangat ditentukan oleh kondisi hatinya.
Salah satu persoalan hati yang paling banyak menjangkiti manusia saat ini adalah hilangnya rasa syukur.
Kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi ternyata tidak selalu melahirkan kebahagiaan. Sebaliknya, banyak orang justru semakin sulit merasa cukup.
Mereka lebih fokus melihat apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan. Seseorang yang memiliki sepeda motor ingin mobil, yang memiliki mobil ingin kendaraan mewah, yang memiliki rumah ingin rumah yang lebih besar, dan ketika semua itu telah tercapai, keinginan baru kembali muncul tanpa batas.
Akibatnya, hati terus merasa kurang dan tidak pernah menemukan ketenangan. Allah SWT telah menjanjikan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, tetapi janji itu sering kalah oleh budaya membandingkan diri dengan orang lain.
Kehidupan yang terus diukur dengan pencapaian orang lain pada akhirnya hanya akan menjauhkan seseorang dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
Fenomena tersebut semakin diperparah oleh kehadiran media sosial yang secara tidak langsung menjadi ladang subur tumbuhnya iri hati.
Hari ini, penyakit hati paling cepat menyebar bukan melalui udara, melainkan melalui layar telepon genggam.
Setiap hari seseorang disuguhi berbagai potret kesuksesan orang lain. Ada yang sedang beribadah di tanah suci, ada yang membeli kendaraan baru, ada yang memamerkan rumah impian, dan ada pula yang menunjukkan keberhasilan kariernya.
Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Padahal yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kisah perjuangannya.
Kita sering melihat hasil akhirnya, tetapi tidak pernah menyaksikan air mata, kegagalan, doa, dan kerja keras yang mengantarkannya pada keberhasilan tersebut.
Karena itu, iri hati harus diubah menjadi inspirasi. Kesuksesan orang lain tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa rendah diri, melainkan menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas usaha yang dilakukan.
Selain iri hati, penyakit lain yang semakin marak di era digital adalah su’uzan atau prasangka buruk. Banyak orang hari ini begitu mudah mengambil kesimpulan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
Pesan yang tidak segera dibalas dianggap sebagai tanda kemarahan, teman yang tidak menyapa dianggap sombong, dan keberhasilan seseorang sering dicurigai sebagai hasil dari jalan pintas yang tidak benar.
Padahal kenyataannya bisa sangat berbeda. Bisa jadi seseorang tidak membalas pesan karena kesibukan yang mendesak, atau mungkin sedang menghadapi persoalan berat yang tidak diketahui orang lain.
Alquran secara tegas memerintahkan kaum beriman untuk menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa.
Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, menata hati berarti belajar untuk memahami sebelum menghakimi, mendengar sebelum menuduh, dan mencari kebenaran sebelum mengambil kesimpulan.
Sikap husnuzan bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga menjadi jalan untuk menciptakan kedamaian dalam hati sendiri.
Di atas semua itu, persoalan terbesar manusia modern sebenarnya adalah semakin jauhnya hati dari Allah SWT. Banyak orang begitu peduli dengan kondisi baterai telepon genggamnya.
Ketika daya tinggal lima persen, mereka segera mencari charger, colokan listrik, atau power bank. Namun ketika iman mulai melemah, semangat beribadah menurun, dan hubungan dengan Allah semakin renggang, tidak sedikit yang justru merasa biasa-biasa saja.
Padahal yang akan menemani manusia di alam kubur bukanlah teknologi, jabatan, atau kekayaan, melainkan amal saleh yang dilakukan selama hidupnya.
Dalam kondisi seperti inilah firman Allah SWT menjadi sangat relevan, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.
Ketenangan yang sejati tidak dapat dibeli dengan harta, tidak dapat diraih dengan popularitas, dan tidak dapat diperoleh hanya dengan pengakuan manusia.
Ketenangan lahir dari hati yang mengenal Tuhannya, hati yang selalu terhubung dengan Allah dalam setiap keadaan, baik saat lapang maupun saat sempit.
Oleh karena itu, memasuki tahun-tahun kehidupan yang terus berjalan, yang paling penting bukanlah bertanya tentang apa yang telah berhasil kita kumpulkan, melainkan bagaimana kondisi hati yang kita bawa menghadap Allah SWT.
Sebab usia yang bertambah pada hakikatnya adalah jatah hidup yang semakin berkurang. Dunia hanyalah perjalanan singkat yang suatu saat akan berakhir.
Maka, sebelum sibuk memperbarui berbagai hal di luar diri, sudah saatnya setiap orang memperbarui apa yang ada di dalam dirinya.
Menata hati dari keluhan menjadi syukur, dari iri menjadi inspirasi, dari prasangka menjadi husnuzan, dan dari kelalaian menjadi kedekatan dengan Allah.
Sebab ketika hati telah tertata, langkah hidup pun akan menjadi lebih terarah, lebih tenang, dan lebih bermakna.
Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam hidup seseorang tidak dimulai dari pergantian kalender, melainkan dari keberanian untuk memperbaiki hati yang ada di dalam dada.***





