29.1 C
Tanjung Pinang
Jumat, Februari 13, 2026
spot_img

Memaknai Kehidupan dari Peristiwa Isra Mikraj

Oleh:
Raja Dachroni
Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Riau (UR)

PERISTIWA Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan teologis, spiritual, dan sosial.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi ruang dan langit, melainkan sebuah pelajaran hidup tentang makna iman, keteguhan dalam ujian, serta pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan tanggung jawab kemanusiaan.

Setiap peringatan Isra Mikraj, khususnya pada 27 Rajab 1447 Hijriah, menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk merenungi kembali arah perjalanan hidupnya.

Al quran mengabadikan peristiwa Isra dalam firman Allah SWT. “Mahasuci Allah yang telah diperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.” (QS. Al-Isra: 1).

Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mikraj adalah kehendak langsung Allah dan menjadi tanda kekuasaan-Nya bagi manusia yang mau berpikir dan mengambil pelajaran.

Peristiwa ini terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, tekanan psikologis dan sosial semakin besar.

Dalam kondisi itulah Allah SWT menguatkan Rasul-Nya dengan perjalanan spiritual yang luar biasa. Hal ini mengajarkan bahwa ujian hidup bukan tanda ditinggalkan Allah, melainkan sering kali menjadi jalan menuju kedewasaan iman dan peningkatan derajat spiritual.

Isra, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, memiliki makna historis dan sosiologis yang mendalam. Masjidil Aqsa merupakan simbol kesinambungan risalah para nabi.

Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi para nabi di Masjidil Aqsa (HR. Muslim).
Ini menegaskan posisi Islam sebagai penyempurna ajaran tauhid serta pentingnya menghargai sejarah dan nilai-nilai kemanusiaan universal dalam kehidupan beragama.

Sementara Mikraj, perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, mengandung pesan spiritual yang sangat kuat. Pada peristiwa inilah Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu.

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa awalnya salat diwajibkan lima puluh waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu dengan pahala tetap lima puluh.

Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW sekaligus menegaskan kedudukan shalat sebagai ibadah utama. Salat menjadi inti dari pesan Isra Mikraj. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Ayat ini menegaskan bahwa salat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga instrumen pembentukan karakter dan moral. Jika shalat dilaksanakan dengan benar dan penuh kesadaran, ia akan membentuk pribadi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Makna kehidupan yang dapat dipetik dari Isra Mikraj adalah pentingnya keseimbangan antara dimensi horizontal dan vertikal. Isra mengajarkan kepedulian sosial, keterlibatan dalam realitas umat, dan tanggung jawab membangun peradaban.

Baca Juga:  Siasat Mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah ke Meja Dewan

Mikraj mengajarkan kedekatan dengan Allah, keikhlasan, dan kebersihan hati. Islam tidak membenarkan kehidupan yang hanya sibuk dengan urusan dunia tanpa spiritualitas, maupun kehidupan yang hanya fokus pada ibadah pribadi tanpa kepedulian sosial.

Dalam konteks keluarga, Isra Mikraj memberi pesan kuat tentang pendidikan iman. Rasulullah SAW bersabda,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menegaskan bahwa salat harus ditanamkan sejak dini sebagai fondasi kehidupan. Keluarga yang menjadikan salat sebagai poros kehidupan akan melahirkan generasi yang memiliki arah, disiplin, dan ketenangan batin.

Pada level sosial, refleksi Isra Mikraj seharusnya melahirkan kesadaran etika publik. Banyaknya praktik ketidakadilan, korupsi, dan kekerasan menjadi tanda bahwa nilai-nilai spiritual belum sepenuhnya membumi.

Rasulullah SAW mengingatkan,
“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Ibadah yang benar semestinya tercermin dalam akhlak sosial yang adil, santun, dan penuh empati. Di tengah krisis makna yang melanda manusia modern, Isra Mikraj menawarkan jalan keluar spiritual. Banyak manusia merasa hampa meski hidup berkecukupan.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Mikraj mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari materi, tetapi dari kedekatan dengan Sang Pencipta.
Peringatan Isra Mikraj 27 Rajab 1447 Hijriah hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan perayaan simbolik.

Ia harus menjadi momentum evaluasi diri, sejauh mana salat telah menjadi penopang hidup, sejauh mana iman membimbing perilaku, dan sejauh mana kehadiran kita memberi manfaat bagi sesama.

Memaknai Isra Mikraj berarti menata ulang orientasi hidup. Dari rutinitas menuju penghayatan, dari formalitas menuju kesadaran.

Semoga peringatan Isra Mikraj kali ini benar-benar mengangkat kualitas iman, memperbaiki akhlak, dan menuntun kita menjalani kehidupan yang bermakna, seimbang, dan diridhai Allah SWT. ***

spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru