29.9 C
Tanjung Pinang
Rabu, September 16, 2026
spot_img

Masih Ada Embun di Tengah Siang yang Terik

Oleh:
Suyono Saeran
Wartawan Senior di Kepri

KEMARIN siang kami duduk bertiga di tengah cuaca terik, ketika hujan yang kami rindukan belum juga turun.
Kami memilih kedai kopi sederhana.

Tanpa AC, hanya kipas angin yang berputar kencang tepat di atas kepala.
Tak ada camilan, apalagi makanan berat.

Hanya secangkir kopi hitam dan segelas air putih menemani obrolan kami.
Meski begitu, diskusi mengalir jernih seperti embun pagi. Panas siang tak mampu menghalangi gagasan tentang masa depan.

Kami bertiga memang bukan anak muda lagi. Usia kami sudah lewat 50 tahun, tetapi gagasan dan impian masih terus tumbuh.

Sesekali kami menyeruput kopi. Aroma kafein membuat obrolan semakin hidup, seolah memberi tenaga baru untuk menyusun langkah.

Kami bicara tentang jalan yang masih terbuka lebar. Tentang langkah yang harus terus kami ayunkan tanpa keraguan.

Tak seorang pun dari kami berniat berhenti. Apalagi menyerah ketika perjalanan masih menyimpan banyak kemungkinan.

Di antara uap kopi yang perlahan menghilang, impian itu tak lagi terdengar seperti bisikan.

Kami mulai melihatnya dengan lebih jelas. Ada tujuan, ada langkah, dan ada peta yang perlahan kami gambar.

Peta itu seakan muncul di atas meja kayu yang sudah usang, mengikuti setiap gagasan yang kami lontarkan.
Tak ada yang terburu-buru. Tak ada pula yang menuntut semuanya berjalan cepat.

Kami hanya duduk, saling mengisi kekosongan dan menguatkan langkah ketika salah satu mulai kehilangan tenaga.

Di tengah obrolan serius, sesekali kami tertawa lepas. Kami menertawakan kerumitan dunia yang kadang terasa begitu sederhana.

Mungkin memang sesederhana secangkir kopi yang seseorang seduh dengan hati.

Sesekali kami diam. Kami mendengarkan suara kipas dan deru kendaraan yang terus melintas di jalan depan kedai.

Baca Juga:  Sentuhan Para Pewarta Senior Buat Sahabat Trisno Aji Putra

Berjam-jam kami duduk di sana sebelum akhirnya pulang. Panas siang perlahan mereda, tetapi semangat kami justru semakin menyala.

Kami pulang tanpa perut kenyang, tetapi hati terasa penuh. Ada sesuatu yang tumbuh dari percakapan sederhana siang itu.

Kami percaya, hujan semangat akan turun menyiraminya. Dari sana, kerja keras, keyakinan, dan harapan akan terus tumbuh.

Pada akhirnya, kami tak membutuhkan kenyamanan mewah untuk memulai sesuatu.

Kami hanya membutuhkan teman yang mau duduk bersama, berbagi mimpi, dan saling percaya pada kemungkinan hari esok.

Suatu hari nanti, mungkin kami akan duduk kembali dan mengenang percakapan siang itu dengan senyum dan rasa bangga.

Sebab dari kedai kopi sederhana, kami pernah menanam sebuah mimpi. Lalu kami memilih untuk terus menjaganya.***

spot_img
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru