28.8 C
Tanjung Pinang
Kamis, Agustus 13, 2026
spot_img

Mahasiswa KKN FSTeM Brawijaya Sulap Limbah Kulit Kopi Jadi Teh Cascara

​MALANG (HAKA) – Kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan unggulan Indonesia, yang menghasilkan limbah kulit kopi robusta (Coffea canephora) dalam jumlah besar.

​Masyarakat umumnya belum memanfaatkan limbah kulit kopi secara optimal, sehingga banyak yang membuang atau membakarnya.

Kondisi itu berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. ​Persoalan limbah kulit kopi juga muncul di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Sebagian besar pelaku usaha kopi masih membuang kulit kopi di sekitar area pengolahan.

​Penumpukan limbah itu memunculkan bau tidak sedap, mengganggu kebersihan lingkungan, dan berpotensi mencemari lingkungan apabila masyarakat tidak mengelolanya dengan baik.

​Perwakilan kelompok tani kopi sekaligus UMKM kopi Desa Srigading, Rofiq, mengatakan, selama proses produksi kopi, masyarakat belum memanfaatkan kulit buah kopi dan langsung jadi limbah.

​”Kami hanya memanfaatkan biji kopinya, sedangkan kulit langsung kami buang karena belum tahu cara mengolahnya,” ujarnya.

​Kulit kopi sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi berbagai produk bernilai tambah.

​Pemanfaatan limbah tersebut, tidak hanya mampu mengurangi dampak pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru.

​Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) kemudian menghadirkan program Kolaborasi Optimalisasi Potensi Inovasi Kopi Unggulan, alias KOPIKU.

​Melalui program itu, mahasiswa memberikan edukasi kepada masyarakat, mengenai teknik pengolahan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik dan Teh Cascara

“Tentunya dengan teknologi tepat guna, serta bahan yang mudah timbul di lingkungan sekitar,” ujar salah satu mahasiswa, Pasha Azikra.

Ia mengatakan, ​program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat, dalam mengelola limbah pertanian.

Yakni melalui penerapan teknologi tepat guna, sekaligus mendorong ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan di Desa Srigading.

​Pembuatan pupuk kompos dari limbah kulit kopi diawali dengan menyiapkan kulit kopi kering, sekam padi, serabut kelapa, EM4, gula merah atau molase, serta air bersih.

​Selanjutnya, sambung Pasha, larutan EM4, campur dengan kulit kopi, sekam, dan serabut kelapa, lalu mengaduk campuran hingga mencapai tingkat kelembaban yang sesuai.

“​Setelah itu, masukan seluruh campuran ke dalam composter bag, dengan menyisakan ruang kosong agar sirkulasi udara tetap berjalan lancar,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemprov Kepri Kucurkan Rp970 Juta Atasi Banjir di Bintan Timur

​Selama proses pengomposan, bahan tetap aduk secara rutin dan menjaga kadar kelembaban.

“Agar menghasilkan pupuk kompos organik yang matang dan siap pakai,” imbuhnya.

​Pemanfaatan pupuk kompos organik dari limbah kulit kopi memberikan berbagai manfaat bagi sektor pertanian.

​Pupuk kompos dari limbah kopi mampu meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

“Serta menyediakan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan serat secara bertahap bagi tanaman,” sebutnya.

Pasha menjelaskan, ​penggunaan pupuk organik juga membantu petani, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

“Sekaligus mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan,” ucapnya.

​Selain memperkenalkan kompos organik, mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya, juga mengenalkan inovasi pengolahan kulit kopi menjadi Teh Cascara.

​Istilah cascara berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “kulit”. Minuman herbal tersebut menggunakan kulit buah kopi kering sebagai bahan utama.

​Berbeda dengan kopi yang berasal dari bijinya, cascara menawarkan cita rasa manis alami, sedikit asam, dan aroma buah yang menyerupai teh herbal.

​Proses pembuatannya meliputi tahap sortasi, pencucian, pengeringan, kemudian penyimpanan dalam wadah kedap udara.

​Masyarakat dapat menyeduh cascara menggunakan air bersuhu 90-95 derajat celsius selama 5-8 menit, dan menikmatinya langsung.

“Atau bisa juga menambahkan madu maupun lemon,” imbuhnya.

​Teh Cascara menghadirkan cita rasa manis alami dengan aroma buah serta mengandung antioksidan, polifenol, flavonoid, dan asam klorogenat.

​Kandungannya membantu menangkal radikal bebas, menjaga kesehatan jantung, kesehatan pencernaan, sekaligus membuka peluang pengembangan cascara sebagai produk unggulan.

Ia berharap, ​kegiatan KKN memberikan dampak positif bagi masyarakat, melalui edukasi pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi kompos dan Teh Cascara.

Selain itu, ​program ini meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan limbah, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih inovatif.

​”Juga membuka peluang pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk bernilai ekonomi bagi warga Desa Srigading,” pungkasnya. (rul)

masrun
masrun
Jurnalis. Bergabung dengan Hariankepri.com sejak 2018. Aktif sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Tanjungpinang.
spot_img
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru