27.6 C
Tanjung Pinang
Sabtu, Desember 6, 2025
spot_img

Literasi Digital Belum Menyentuh Daerah 3T, Buku Cetak Masih Jadi Andalan

TANJUNGPINANG (HAKA) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, kesenjangan literasi digital di Indonesia masih menjadi persoalan besar, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Kepala Perpustakaan Nasional, Aminudin Aziz, menegaskan, bahwa digitalisasi perpustakaan untuk saat ini bukan lagi dijadikan sebagai pilihan, melainkan harus menjadi keharusan.

Namun, menurutnya, realisasinya di lapangan masih menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga rendahnya akses masyarakat terhadap perangkat digital.

“Pustakawan hari ini dituntut menyediakan informasi dengan cepat dan akurat. Digitalisasi adalah salah satu jalan untuk menjawab tantangan itu,” ujarnya, kepada hariankepri.com, kemarin.

Ia mengakui, bahwa transformasi digital belum bisa sepenuhnya diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Terutama di daerah 3T, yang akses internet masih terbatas, dan teknologi belum sepenuhnya menjangkau masyarakat.

“Kalau kita tidak menyiapkan pustaka digital, maka generasi muda tidak akan tertarik datang ke perpustakaan. Tapi di sisi lain, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada digital, karena masih banyak daerah yang belum siap,” jelasnya.

Untuk menjawab kesenjangan ini, ia mengatakan, saat ini Perpustakaan Nasional tetap mengedepankan pengiriman bahan pustaka dalam bentuk buku cetak sebagai solusi jangka pendek.

Tahun ini, lembaga tersebut menargetkan distribusi ke 10 ribu titik pustaka cetak, dengan masing-masing titik mendapatkan sekitar seribu judul buku.

“Pemerintah masih memiliki tantangan besar dalam menyediakan akses buku digital di wilayah 3T. Karena itu, kami tetap konsisten mengirimkan buku cetak ke daerah-daerah tersebut setiap tahun,” katanya.

Ia menilai, bahwa langkah ini dianggap sebagai bentuk komitmen untuk menjaga akses literasi tetap hidup, terutama bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan digital secara memadai.

“Literasi tidak boleh menunggu teknologi siap. Selama internet belum merata, kami akan terus pastikan bahan bacaan sampai ke pelosok, dengan cara yang paling mungkin,” tegasnya. (dim)

Dimas Bona
Dimas Bona
Jurnalis hariankepri.com sejak tahun 2023. Dalam kesehariannya, aktif melakukan peliputan dan penulisan berbagai peristiwa kriminal serta isu-isu daerah yang terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Anggota aktif Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang, yang menunjukkan komitmennya terhadap jurnalisme yang profesional dan independen.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru