LINGGA (HAKA) – Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Lingga memantik kritik dari kalangan mahasiswa.
Mahasiswa asal Lingga, Meidwix Syafnaraja menilai, kekeringan ini bukan sekadar faktor cuaca, melainkan dampak sebuah kebijakan.
“Kultur masyarakat Lingga itu laut, tapi kenapa harus berkebun? Ini ironi yang kami rasakan,” tegasnya kepada hariankepri.com, kemarin.
Ia menyoroti ekspansi perkebunan kelapa sawit di wilayah kepulauan, sebagai penyebab menyusutnya cadangan air tanah.
Menurutnya, memaksakan tanaman yang rakus air di pulau kecil dengan daya dukung lingkungan terbatas adalah sebuah kesalahan.
“Akibatnya sekarang sumur kering. Warga harus membeli air Rp 20 ribu per tong di tanahnya sendiri,” ungkapnya.
Meidwix menyayangkan pergeseran identitas ekonomi dari maritim ke perkebunan darat yang menurutnya tidak menyejahterakan, justru menyengsarakan.
“Laut bukan hanya sumber nafkah, tapi identitas. Memaksakan sawit di sini hanya memperbesar risiko krisis lingkungan,” tuturnya.
Ia mendesak pemerintah daerah dan korporasi untuk bertanggung jawab atas keadilan ekologis yang kini terenggut dari warga Lingga.
“Ini sebuah peringatan. Pemerintah jangan sembunyi di balik alasan investasi sementara warga kesulitan air minum,” pungkasnya. (sih)





