Beranda Opini

Lanjutkan Perjuangan Kemerdekaan, Indonesia Butuh Lebih Banyak Pejuang Kolektif

0

Menjadi Pemeran Utama

Dalam peran perjuangan ini, seseorang memberi saham begitu banyak kepada berbagai investasi amal kebaikan. Kadang ia menjadi yang pertama, kadang ia menjadi yang utama.

Bahwa setiap zaman ada orang terbaiknya. Setiap ruang-ruang amal ada pemain utamanya. Dalam setiap pekerjaan ada orang nomor satunya.

Di setiap lingkaran dari seluruh wilayah perjuangan dan amal kebaikan, ada orang-orang yang layak dan bisa menjadi pemeran utama. Di rumah, di tempat bekerja, di masyarakat, di pusat pemerintahan, atau di mana saja, tempat amal itu berada.

Ruang-ruang itu bahkan begitu banyak. Sebanyak profesi-profesi halal yang ada di muka bumi Nusantara ini. Mungkin di antara kita seorang guru, petani, pedagang, karyawan, penuntut ilmu, politikus, pejabat, atau ibu rumah tangga, atau apa saja.

Dalam setiap ruang-ruang yang bisa kita jangkau itu, kita bisa menjadi pemeran utama dari seluruh proses perjuangan hidup ini.

Menjadi Pemain Kedua

Dalam peran perjuangan ini, seseorang diberi karunia oleh Tuhan Yang Maha Esa, untuk menjadi orang kedua. Pengertiannya, bahwa orang dengan tipe seperti ini hidup ditengah ruang beramal, dimana ada orang lain yang lebih baik dari dirinya.

Dalam setiap amal, selalu ada orang nomor dua. Terlepas apakah selisih jarak antara orang pertama dan kedua itu pendek atau panjang, dari segi kualitas, usia atau apa saja.

Dalam berbagai kepentingan adanya pemain kedua, justru sangat penting sebagai pendamping dari pemain pertama sekaligus untuk menjaga keseimbangan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, secara pola tidak akan jauh berbeda dengan itu. Karenanya, bila kita tidak bisa menjadi orang pertama, setidaknya kita bisa menjadi orang yang kedua.

Segala peran hidup dan perjuangan memerlukan orang-orang lapis kedua. Ini tidak saja demi kehidupan keseimbangan seperti disebut diatas, tapi lebih lanjut juga demi terjaganya keseimbangan kesinambungan regenerasi hidup memang harus berbagi peran.

Seperti sebuah biduk rumah tangga pengayuh pertamanya adalah suami, sedangkan pengayuh lapis keduanya adalah istri. Begitu seterusnya, pada seluruh bentuk-bentuk amal kebaikan yang kita geluti.







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini