WAJAH Kota Tanjungpinang sebagai pusat budaya Melayu dan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, kini tengah dibayangi noktah hitam.
Merosotnya tingkat hunian hotel kelas melati, memaksa sejumlah pengelola memutar otak demi menyambung napas operasional, tapi pilihannya justru memicu polemik.
Alih-alih mengejar wisatawan, banyak kamar hotel kini beralih fungsi menjadi hunian indekos, yang terindikasi kuat menjadi sarang praktik prostitusi terselubung.
Keresahan ini mulai menyulut suara keras dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau dan MUI Tanjungpinang. Seperti apa respon tegas MUI dan LAM, simak tulisan lengkapnya DI SINI!.
Penulis : Masrun




