TANJUNGPINANG (HAKA) – Layanan air bersih Perumda Tirta Kepri (dulu PDAM) di Kota Tanjungpinang dan Bintan, masih sangat rendah hingga tahun 2026 ini.
Audit BPKP mencatat layanan air bersih tersebut baru menjangkau sekitar 33 persen dari total populasi penduduk setempat.
Cakupan yang rendah ini, memicu penumpukan daftar tunggu calon pelanggan, yang ingin mengakses air bersih secara rutin.
Direktur Utama Perumda Tirta Kepri, Abdul Kholik, menyebut 4.000 warga kini mengantre demi mendapatkan sambungan layanan air.
“Keterbatasan sumber air tawar pada Waduk Sei Pulai dan Waduk Kawal menghambat pemenuhan kebutuhan penduduk,” ungkap Kholik, beberapa waktu lalu.
Menurutnya,.kondisi tersebut memaksa sebagian besar masyarakat menggunakan air sumur galian, atau membeli air tangki untuk kebutuhan harian.
“Penduduk masih mengandalkan air sumur atau membeli air secara mandiri,” tambah Kholik.
Selain faktor alam, infrastruktur pipa distribusi yang sudah tua juga menghambat kelancaran distribusi air ke rumah pelanggan.
“Debit air yang minim dan jaringan pipa tua menjadi kendala utama kami melayani ribuan calon pelanggan baru,” ungkapnya.
Kholik menegaskan kembali, bahwa 4.000 calon pelanggan tetap berada dalam daftar tunggu tanpa kepastian layanan segera.
“Kami mengharapkan dukungan APBD Kepri guna membiayai penggantian jaringan pipa lama agar distribusi air lebih maksimal,” pungkasnya. (dan)





