TANJUNGPINANG (HAKA) – Disnakertrans Provinsi Kepri, merombak alokasi anggaran pelatihan kerja di kabupaten kota, agar berorientasi pada kebutuhan pasar industri.
​Langkah ini merespon ketimpangan kompetensi di lapangan, karena pencari kerja lokal sering kalah bersaing, akibat minimnya spesifikasi keahlian khusus.
​”Contohnya kemarin, PT membutuhkan 200 tenaga las pipa dalam sebulan dengan gaji lumayan,” kata Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya.
​Namun, ketiadaan SDM lokal yang menguasai teknik tersebut, memaksa perusahaan mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah seperti Jawa dan Sumatera.
​”Ini yang sedang kita ubah ke depan. Kita pastikan semua instrumen pelatihan kita benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” tegas Diky.
​Kawasan industri Batam, Bintan, dan Karimun saat ini sangat minim menyerap lulusan dari rumpun ilmu sosial, maupun ilmu ekonomi.
​”Hari ini industri tidak mencari lulusan manajemen, ekonomi, atau sosial politik untuk sektor teknis,” urai Diky.
​Sebaliknya, bursa kerja di kawasan industri Kepri justru sedang mengalami kelangkaan pasokan lulusan Teknik Mesin, Teknik Elektro, hingga Teknik Kimia.
​Diky mencontohkan PT Ecogreen yang terpaksa merekrut lulusan Teknik Kimia dari Surabaya karena perguruan tinggi lokal di Kepri tidak menyediakannya.
​”Bukannya kita susah cari kerja, tapi jembatan kompetensinya yang sering tidak nyambung atau tidak sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelas Diky.
​Guna mengatasi pengangguran sarjana, Pemprov Kepri mengandalkan program magang Kementerian Ketenagakerjaan, yang menaikkan kuota menjadi 150.000 peserta tahun ini.
​Pihaknya juga meminta perguruan tinggi mengaudit kurikulum serta mengimbau orang tua, agar mengarahkan anak ke jalur pendidikan vokasi siap kerja. (sih)





