TANJUNGPINANG (HAKA) – Tingkat kesejahteraan dan daya beli petani di Provinsi Kepri, menunjukkan tren positif pada ujung tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) Kepri pada Desember 2025 berada di angka 108,01.
Kepala BPS Kepri, Margareta menyampaikan, angka itu naik 2,93 persen, apabila membandingkannya dengan kondisi pada November 2025.
“Kenaikan NTP ini menjadi kabar baik, karena menunjukkan kemampuan beli petani di perdesaan semakin kuat,” katanya, kepada hariankepri.com kemarin.
Ia menyebut, produk pertanian kini memiliki daya tukar yang lebih tinggi terhadap barang dan jasa serta biaya produksi.
“Kenaikan ini terjadi karena harga hasil produksi pertanian naik lebih tinggi, sementara biaya konsumsi dan produksi hanya naik 1,25 persen,” ucapnya.
Dari berbagai lini, subsektor hortikultura mencatatkan performa paling gemilang. NTP subsektor ini meroket hingga 13,30 persen, dengan angka indeks mencapai 119,49.
Selain hortikultura, subsektor peternakan juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,16 persen.
Namun, tiga subsektor lain seperti tanaman pangan, perkebunan rakyat, dan perikanan justru mengalami penurunan indeks daya beli.
Meski demikian, secara umum Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Kepri juga ikut terkerek naik sebesar 4,13 persen menjadi 110,13.
“Peningkatan NTUP ini memberi sinyal bahwa usaha pertanian di Kepri masih sangat prospektif dan menguntungkan,” jelasnya.
Khusus untuk sektor perikanan, kelompok perikanan tangkap masih mencatatkan kenaikan harga jual sebesar 0,78 persen.
Sebaliknya, harga pada kelompok perikanan budidaya justru terkoreksi turun sebesar 0,51 persen pada periode yang sama. (dim)





