TANJUNGPINANG (HAKA) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kepri, bersama Dinas Kebudayaan, menggesa langkah taktis penyelamatan arsip sejarah Melayu
“Yakni melalui program digitalisasi naskah kuno,” ucap ​Kepala DPK Provinsi Kepri M Bisri, kepada hariankepri.com beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, penyelamatan naskah kuno sangat krusial, karena menjadi bukti otentik identitas peradaban besar Kesultanan Riau-Lingga.
​Pemprov Kepri berupaya keras, agar karya sastrawan besar Raja Ali Haji, mendapat pengakuan warisan dokumenter dunia melalui Memory of the World UNESCO.
​”Salah satu syarat mutlak UNESCO adalah kita harus menunjukkan bukti fisik naskah asli. Makanya kami menggesa proses identifikasi,” ujarnya.
​Bisri membahas langkah strategis ini usai menerima kunjungan sejarawan Melayu terkemuka Aswandi Syahri di kantornya baru-baru ini.
​Bisri mengakui, proses digitalisasi merupakan kerja panjang yang butuh keahlian khusus, keterampilan tingkat tinggi, serta biaya perawatan fisik yang mahal.
​Tantangan terbesar di lapangan adalah sebagian besar lembaran naskah bersejarah tersebut saat ini belum berada di dalam gedung perpustakaan daerah.
​Dokumen kuno tersebut masih tersebar di tangan kolektor pribadi, pihak swasta, bahkan berada di luar negeri seperti Malaysia dan Belanda.
​”Kami akan turun bersama Dinas Kebudayaan untuk mengidentifikasi keberadaan naskah ke tangan kolektor ataupun lembaga swasta,” tambahnya.
​Sembari melacak fisik, DPK Kepri menyiasatinya dengan merekonstruksi nilai naskah untuk terbitan bentuk e-book agar ramah bagi generasi muda.(sih)






