Oleh:
Citra Gusti Putra Effendi, S.Kom Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning.
SISTEM manajemen kinerja petugas lapangan tidak cukup hanya diukur melalui angka Indikator Kinerja Utama atau Key Performance Indicator (KPI).
Minimnya figur percontohan di lapangan sering kali membuat petugas dengan kinerja rendah kehilangan arah untuk berkembang.
Ketika tidak ada contoh perilaku kerja yang bisa diamati dan ditiru secara langsung, pembinaan menjadi kurang efektif, yang pada akhirnya memicu tingginya angka perputaran karyawan (turnover).
Studi kasus ini bertujuan menjadikan pengalaman profesional sebagai peluang belajar, sekaligus melatih kompetensi penyelesaian masalah melalui pendekatan akademis.
Dalam kajiannya, teridentifikasi dua akar masalah utama di lingkungan kerja lapangan. Yakni, kurangnya role model (figur teladan) dalam pelaksanaan kerja sehari-hari, dan belum kuatnya budaya saling belajar antarpegawai.
Dampak dari absennya figur teladan ini sangat dirasakan oleh petugas yang belum mencapai kinerja optimal. Mereka tidak memiliki rujukan perilaku kerja yang jelas dan kesulitan memperbaiki metode kerja karena tidak adanya contoh nyata.
Di sisi lain, organisasi harus menanggung konsekuensi berupa tingginya tingkat pergantian petugas. Persoalan ini sebenarnya harus dibaca sebagai peluang besar untuk membangun budaya belajar antarpegawai (peer-to-peer learning).
Teori untuk mengatasi masalah ini adalah, Social Cognitive Theory atau Teori Kognitif Sosial yang dicetuskan oleh Bandura (1986).
Pandangan ini menjelaskan bahwa seorang individu dapat belajar secara efektif melalui pengamatan terhadap orang lain, terutama figur yang dianggap berhasil.
Dalam konteks dunia kerja, petugas dengan capaian KPI rendah dapat mengakselerasi kemampuannya dengan belajar langsung dari petugas yang lebih unggul melalui contoh nyata, pembiasaan, dan umpan balik (feedback).
Untuk itu, solusi praktis yang ditawarkan dalam permasalahan itu meliputi, membangun sistem buddying atau mentoring. Yakni, menciptakan ruang kolaborasi formal di lapangan.
Kedua, pemasangan silang (pairing) dalam hal ini memasangkan petugas dengan KPI rendah bersama rekan kerja yang memiliki performa lebih unggul.
Berikutnya, implementasi teori manajemen berupa menjadikan teori akademis sebagai alat pemecah masalah (problem-solving tool) yang aplikatif di lingkungan kerja.
Menanggapi gagasan ini, Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum, menilai bahwa ide yang ditawarkan sangat praktis, sederhana, dan mudah diuji.
Namun, ia memberikan catatan penting bahwa implementasi ini perlu didukung oleh indikator keberhasilan yang terukur, seperti perubahan grafik KPI, tingkat retensi petugas, serta kualitas pembinaan itu sendiri.
Untuk mengubah perilaku harus melewati proses nyata dari perspektif Dr. Chandra Bagus,S.T.,M.M. Seorang sejawat yang mendalami ilmu manajemen dari sudut pandang praktik kerja dan kehidupan organisasi.
Menurut Chandra, pengalaman kerja akan jauh lebih berdampak jika pembinaan kinerja tidak berhenti pada teguran angka KPI semata, melainkan berfokus pada bagaimana manusia belajar dari contoh nyata
Merujuk pada pandangan Miles (2012), Social Cognitive Theory dapat dibedah ke dalam 6 elemen penting untuk melihat perubahan perilaku kerja.
Pertama, observational learning adalah proses belajar dengan mengamati tindakan orang lain. Selanjutnya, behavioral modeling yakni, adanya contoh perilaku kerja konkret yang bisa ditiru.
Elemen ketiga adalah self-efficacy untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa pegawai mampu memperbaiki kinerjanya. Berikutnya, reciprocal determinism mengenai hubungan saling memengaruhi antara perilaku, faktor pribadi, dan lingkungan kerja.
Selanjutnya, elemen feedback harurs ada umpan balik yang konstruktif untuk membantu proses belajar. Terakhir, behavioral change tentang perubahan perilaku nyata setelah proses pembinaan dilakukan.
Kesimpulannya, melalui pendekatan ini, teori akademis berhasil menjelaskan mengapa sistem mentoring dan kehadiran teladan nyata di lapangan jauh lebih kuat dampaknya daripada sekadar mengejar dan menegur angka kinerja.***






