BATAM (HAKA) – Realisasi investasi Semester I 2026 di Batam, mencapai Rp29,89 triliun, naik 62,75 persen dari Rp18,37 triliun pada periode sama 2025.
Wali Kota Amsakar Achmad, menyebut, capaian itu memperkuat posisi Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, dan investasi nasional.
“Realisasi investasi Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun, tumbuh 62,75 persen,” kata Amsakar.
Kenaikan investasi menunjukkan iklim usaha semakin kondusif. Sinergi Pemko Batam, BP Batam, pemerintah pusat, dan pemangku kepentingan mendorong kepastian berusaha.
Jumlah proyek investasi ikut meningkat 32,82 persen. Semester I 2026 mencatat 15.826 proyek, naik dari 11.915 proyek pada Semester I 2025.
Sebanyak 6.932 proyek sudah memasuki tahap produksi. Sementara 8.894 proyek masih berada pada tahap konstruksi.
Kondisi itu memperlihatkan investasi tidak berhenti pada perencanaan, tetapi mulai menghasilkan aktivitas ekonomi.
“Investasi juga menyerap 40.423 tenaga kerja Indonesia, naik 32,20 persen dibandingkan Semester I 2025,” ujarnya.
Jumlah tenaga kerja asing mencapai 520 orang atau naik 29,35 persen. Total penyerapan tenaga kerja mencapai 40.943 orang.
“Fokus kami bukan hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi memastikan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian,” ujar Amsakar.
Nilai investasi per proyek juga meningkat. Rata-rata investasi mencapai Rp1,89 miliar, naik dari Rp1,54 miliar pada Semester I 2025.
“Kenaikan itu, menunjukkan investor mulai menanamkan modal dengan skala lebih besar dan nilai tambah lebih tinggi,” imbuhnya.
Struktur investasi Batam juga bergeser. Industri manufaktur berteknologi tinggi mulai menarik lebih banyak investasi dibanding sebelumnya.
“Perubahan ini menunjukkan arah pembangunan ekonomi Batam semakin kuat,” kata Amsakar.
Selain manufaktur berteknologi tinggi, investor juga menanamkan modal pada industri kimia, farmasi, kawasan industri, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Lima sektor terbesar mencakup jasa lainnya Rp6,09 triliun, industri mesin dan elektronika Rp6,07 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun.
Investasi perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai Rp3,52 triliun. Sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat Rp2,55 triliun.
Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai Rp10,89 triliun. Berikutnya Hong Kong Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat Rp1,02 triliun.
Amsakar menilai sektor jasa masih memerlukan penguatan. IDSD 2025 memberi skor 4,04, sementara persaingan sektor jasa hanya meraih skor 2,91.
Struktur ekonomi Batam masih bertumpu pada industri pengolahan dengan kontribusi 57,01 persen terhadap PDRB. Sektor konstruksi menyumbang 20,23 persen.
Kontribusi perdagangan dan jasa masih lebih kecil. Karena itu, Pemko Batam dan BP Batam memperkuat sektor jasa sebagai pendukung industri.
Pemerintah mengembangkan logistik, jasa profesional, ekonomi digital, industri kreatif, penguatan UMKM, kompetensi vokasi, serta akses pembiayaan bagi UMKM dan startup. (fik)






