TANJUNGPINANG (HAKA) – Kepala BMKG Tanjungpinang, Ahmad Kosasi, menyebut, wilayah Tanjungpinang dan Bintan memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun tanpa kemarau panjang.
“Tanjungpinang dan Bintan cenderung basah sepanjang tahun,” ungkapnya kepada hariankepri.com, Senin (26/1/2026).
Namun, prediksi curah hujan menunjukkan kategori rendah hingga akhir Februari 2026 mendatang.
“Cuaca terasa lebih panas, meski hujan ringan lokal masih berpotensi turun beberapa hari ke depan,” jelasnya.
Gangguan atmosfer berupa Intertropical Convergence Zone (ITCZ) di wilayah selatan Indonesia, memengaruhi penurunan curah hujan saat ini.
“ITCZ menarik massa udara sehingga memicu angin kencang di wilayah Kepri dan Pulau Bintan,” tambahnya.
Aktivitas Monsun Asia juga meningkatkan kecepatan angin di Kepri, hingga mencapai 40 kilometer per jam.
Monsun ini membawa massa udara dingin dari daratan Asia menuju wilayah utara ekuator.
Ia memperingatkan bahwa minimnya hujan dan angin kencang berisiko menimbulkan krisis air bersih.
“Kami mengimbau masyarakat agar menghemat air dan menghindari pembakaran lahan secara sembarangan,” tegasnya. (dan)





