BATAM (HAKA) – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kota Batam (HMKB) Tanjungpinang, Frando Sipayung, menyayangkan aksi penghinaan terhadap suku Melayu di media sosial.
Menurutnya, tindakan tersebut melukai perasaan masyarakat Melayu, dan berpotensi mengganggu keharmonisan yang selama ini terjaga sangat baik di Batam.
“Batam merupakan kota yang tegak atas keberagaman. Di Batam hidup berdampingan berbagai suku, agama, dan budaya,” ujar Frando, Rabu (3/6/2026).
Suku Melayu merupakan masyarakat adat di Batam. Mereka hidup rukun bersama suku Batak, Jawa, Minang, Bugis, Tionghoa, serta suku-suku lainnya.
Semangat kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama Batam sebagai kota yang maju dan harmonis selama bertahun-tahun.
“Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan merendahkan martabat suatu suku,” tegasnya.
Frando meminta masyarakat, tetap bijak dalam menyikapi persoalan ini agar tidak berkembang menjadi konflik antarsuku yang meluas.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat mempercayakan dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum.
Frando juga mengimbau masyarakat, menghindari segala bentuk tindakan provokatif, yang dapat memperkeruh suasana di lapangan.
Ia mengapresiasi Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, yang bergerak cepat memberikan sanksi adat kepada pelaku.
“Semoga hukuman tersebut mencegah permasalahan seperti ini terulang. Kita harus rukun demi terciptanya keharmonisan di Kota Batam,” harapnya.
Ia menegaskan, HMKB Tanjungpinang berkomitmen terus mendorong nilai-nilai persatuan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya di Kepri.
“Jangan karena satu ucapan oknum, kita merusak persaudaraan yang telah berdiri bertahun-tahun. Keberagaman bertahan jika kita saling menghormati,” pungkasnya. (sih)





