BINTAN (HAKA) – Dosen Politeknik Bintan Cakrawala (PBC) bersama Politeknik Negeri Batam, menemukan pewarna alami untuk produk batik dari hasil ekstraksi zat warna mangrove.
Direktur PBC, Emilia Ayu Dewi Karuniawati mengatakan, penelitian tentang mangrove tersebut, bertujuan memberikan dampak nyata serta manfaat bagi masyarakat luas.
“Potensi mangrove di Kepri harus dikembangkan, baik dalam ranah akademik maupun penerapannya di warga lokal,” ucap Emilia.
Ia menyebut, keunggulan batik warna dari mangrove ini yakni, ramah lingkungan serta mengurangi polusi.
“Sehingga, membantu menjaga ekosistem,” ucapnya.
Selain itu, kata Emilia, pewarna mangrove menghasilkan warna yang lebih kuat, dan motifnya tidak mudah luntur.
“Batik mangrove juga menjadi identitas budaya lokal yang unik bagi masyarakat Kepri,” tuturnya.
Emilia menerangkan, tim peneliti dari kedua kampus pariwisata tersebut, menghasilkan campaign mangrove, termasuk motif, booklet, maskot, dan panduan pewarna alami.
“Produk kain pewarna alami mangrove telah dikembangkan menjadi produk turunan seperti pouch, tas, tote bag, dan lainnya,” terangnya.
Pihaknya telah meluncurkan produk warna alami mangrove tersebut kepada pelaku usaha, pemerintah daerah hingga pelaku usaha sektor pariwisata.
“Riset ini, didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan menjadi bagian dari wisata edukasi konservasi bahari,” tutupnya.
Wakil Ketua DPRD I dan Ketua Dekranasda Kepri, Dewi Kumalasari Ansar mengapresiasi hasil riset pewarna alami mangrove tersebut.
Menurutnya, produk ini dapat meningkatkan daya saing UMKM lokal. Bahkan, pemanfaatan mangrove sebagai pewarna alami dapat menjadi identitas baru bagi produk kerajinan Kepri.
Untuk itu, kata Dewi, Dekranasda mendukung kolaborasi kampus dan UMKM untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan produk lokal.
“Sehingga memiliki pasar yang luas, baik nasional maupun internasional,” tutupnya. (rul)





