26.8 C
Tanjung Pinang
Minggu, Maret 8, 2026
spot_img

Harmoni Tradisi dan Tren Kuliner Kekinian di Bazar Ramadan

AROMA gurih minyak panas, yang menari di atas wajan dan kepulan uap putih dari panggangan besi seketika menyergap indra penciuman setiap pengendara yang menepi di Jalan Ganet, Tanjungpinang.

Rabu (25/2/2026), di bawah langit senja yang mulai merona, bazar takjil ini menjelma menjadi panggung pertemuan antara si “raja lama” gorengan yang bersahaja dan si “primadona baru” camilan kekinian yang penuh gaya.

Hendra, sang koki takoyaki, tampak menari dengan dua bilah tusuk kayu, cekatan membolak-balik adonan bulat di atas loyang besi yang terus berasap.

“Permintaan takoyaki memang melonjak tajam karena banyak anak muda yang mengincarnya,” ujar Hendra sembari menyeka bulir keringat di dahi, sebuah isyarat betapa sibuknya ia melayani gelombang selera baru sore itu.

Di balik kepulan uap, ia menyadari bahwa di era layar sentuh, rasa saja tak lagi cukup untuk memenangkan hati.

“Mereka tidak hanya mencari gurihnya adonan, tapi juga tampilan estetik yang cantik saat tertangkap lensa kamera,” tambahnya.

Fenomena “makan dengan mata” ini terpancar nyata dari gerak-gerik Indah, seorang pembeli yang rela berdiri tegap di tengah kepungan asap demi sekotak camilan modern.

Bagi Indah, takjil masa kini adalah perpaduan antara kepuasan perut dan eksistensi digital yang berkelindan.

“Tampilannya sangat estetik untuk saya unggah ke media sosial sebelum ritual berbuka,” tutur Indah sambil sesekali memiringkan ponselnya, mencari sudut pengambilan gambar paling sempurna.

Namun, di tengah gempuran saus mentai dan estetika ala kafe, takhta gorengan tradisional ternyata tetap berdiri kokoh tanpa goyah sedikit pun.

Siti, pedagang gorengan yang telah memiliki barisan pelanggan fanatik, membuktikan bahwa, bakwan garing dan epok-epok yang renyah adalah bahasa universal yang tak lekang oleh zaman.

Baca Juga:  KPPG: Jangan Kurangi Porsi Makan Siswa saat Ramadan

“Gorengan tetap jadi primadona semua kalangan, gunungan bakwan yang saya buat selalu ludes tak bersisa,” tegas Siti dengan nada syukur.

Sentimen kesetiaan ini pun meresap dalam diri Bakri, seorang warga yang menganggap meja berbuka belum sah jika piring gorengan masih kosong.

Baginya, camilan modern hanyalah pemanis suasana, sebuah intermeso di antara menu “wajib” yang telah mendarah daging sejak masa kecil.

“Gorengan itu menu wajib, takoyaki hanya pelengkap agar suasana lebih bervariasi,” pungkas Bakri.

Senja di Jalan Ganet perlahan meredup menuju azan Magrib, menyisakan jejak minyak di bungkusan kertas dan memori rasa di ujung lidah.

Di sana, takhta gorengan tetap terjaga, sementara camilan kekinian terus menjemput masa depannya, menciptakan harmoni rasa yang membuat Ramadan di Tanjungpinang selalu memiliki cerita yang kaya. (sih)

Arsih Zul Adha, S.H.
Arsih Zul Adha, S.H.
Jurnalis hariankepri.com sejak 2026. Alumni Departemen Hukum Tata Negara FISIP UMRAH ini aktif meliput dan menulis berbagai peristiwa serta isu-isu seputar politik, hukum, dan pemerintahan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Meraih Juara II Lomba Menulis Jurnalistik dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di Tanjungpinang.
spot_img
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru