TANJUNGPINANG (HAKA) – RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) Kepri, kekurangan tenaga ahli penata mesin jantung atau perfusionis.
“Ini menghambat pengembangan layanan bedah jantung. Saat ini kita cuma punya satu orang tenaga perfusionis,” kata Direktur RSUD RAT Kepri, Bambang Utoyo kepada hariankepri.com, kemarin.
Menurut Bambang, keterbatasan tenaga tersebut, menyulitkan rumah sakit untuk meningkatkan jumlah tindakan bedah jantung.
Ia mengatakan, biaya pendidikan maupun perekrutan perfusionis masih sangat tinggi.
“Biaya untuk menyekolahkan atau mendatangkan SDM keahlian ini sangat mahal,” ujarnya.
RSUD RAT telah mengusulkan dukungan penguatan SDM kepada pemerintah pusat, sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Di sisi lain, rumah sakit terus melengkapi sarana penunjang layanan jantung dan layanan medis lainnya.
Enam alat kesehatan unggulan telah selesai lelang, di antaranya C-Arm, radioterapi, dan mammografi.
Tim Kementerian Kesehatan RI juga menguji kesiapan operasional alat dan kemampuan tenaga medis.
“Melalui simulasi penanganan pasien kritis, penggunaan ventilator, serta layanan MICU dan NICU,” tukasnya. (sih)






