TANJUNGPINANG (HAKA) – Pemprov Kepri terus memacu Pulau Penyengat sebagai destinasi sejarah, budaya, dan religi untuk mendongkrak ekonomi daerah.
“Wilayah yang menjadi simbol peradaban Melayu Islam ini, kini mengusung konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan,” ucap ​Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan
Ia menyebut pengembangan Penyengat merujuk pada pariwisata regeneratif, sesuai RPJMN 2024–2029.
​”Pariwisata harus memperbaiki lingkungan dan sosial dengan melibatkan warga, bukan sekadar mencari keuntungan ekonomi,” tegas Hasan, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, ​Gubernur Ansar Ahmad merespon instruksi Presiden Prabowo, mengenai Gerakan Wisata Bersih (GWB) dengan merombak infrastruktur pulau.
“Pemprov telah menata jalan, drainase, lampu penerangan, hingga membangun toilet dan sistem pengelolaan sampah modern,” kata Hasan.
​Hasilnya, kunjungan wisatawan ke Penyengat menyentuh angka 6.200 orang sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Pelancong asal Malaysia, Singapura, Eropa, serta wisatawan domestik memadati pulau ini, terutama pada masa libur Idulfitri.
​Hasan meminta warga lokal menangkap peluang lonjakan tamu ini dengan memperkuat UMKM, mengelola homestay, dan meningkatkan jasa pemandu wisata.
Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang terus membina pelaku usaha agar memberikan layanan yang ramah dan berkualitas.
​”Warga punya peran penting menjaga kelestarian Penyengat. Jika lokasi bersih dan nyaman, wisatawan pasti kembali,” tambahnya.
​Hasan optimistis fasilitas di Penyengat akan mempertegas identitas Penyengat sebagai pusat tata bahasa Melayu.
“Sekaligus menjadi mesin baru bagi ekonomi kreatif warga setempat,” tukasnya. (sih)





