TANJUNGPINANG (HAKA) – Sabtu, (13/9/2025) malam, Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang seolah berubah wajah. Pulau mungil seluas dua kilometer persegi yang biasanya tenang itu, malam itu dipenuhi cahaya, suara musik, dan riuh langkah kaki.
Sejak petang, ribuan orang sudah memadati pulau yang dikenal sebagai “mas kawin” Kesultanan Riau-Lingga itu. Para pedagang kuliner berjajar di tepi jalan, sibuk melayani pengunjung yang datang menyeberang dari pusat kota.
Aroma otak-otak dan kopi hangat berpadu dengan semilir angin laut, suasana yang jarang terjadi di pulau ini pada malam hari.
Mereka datang untuk menyaksikan gelaran Night Run 5 Km dalam rangkaian Penyengat Heritage Fest 2025 yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepulauan Riau.
Sekitar pukul 20.00, sebanyak 380 pelari dari berbagai daerah dan mancanegara berdiri di garis start di Pelabuhan Penyengat. Di barisan depan, tampak Penasihat Gubernur Kepri Laksamana TNI (Purn) Marsetio bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, Ketua TP-PKK Kepri Dewi Kumalasari, dan Ketua BKOW Kepri Nenny Dwiyana Nyanyang. Mereka secara simbolis melepas para peserta.
Begitu bendera start dikibarkan, ratusan pelari melesat, menembus gelap malam di jalanan sempit bersejarah yang membelah pulau. Sorak-sorai penonton mengiringi langkah mereka, menciptakan suasana meriah yang belum pernah ada sebelumnya di Penyengat.
Gubernur Ansar Ahmad menyebut, gelaran ini bukan sekadar lomba lari. Event ini tidak akan berhenti sampai di sini. Ke depan, pihaknya akan rutin melaksanakannya setiap tahun.
“Ke depan akan kita buat rutin, hususnya untuk memperkenalkan keindahan Pulau Penyengat di malam hari,” ujarnya.
Kepala Dispar Kepri, Hasan menambahkan, bahwa 67 wisatawan mancanegara ikut ambil bagian, di antaranya dari Brunei, Singapura, Malaysia, dan Australia. Ada juga 27 peserta dari luar daerah, seperti Jambi, Pekanbaru, dan Bandung.
“Sisanya adalah pelari dari berbagai komunitas lari di Kepri,” jelasnya.
Hasan menyebut, ke depan Penyengat Heritage Fest akan semakin diperkaya, termasuk dengan lomba jong dan eksebisi sampan ciau, untuk menonjolkan akar budaya Melayu dan Tionghoa yang menjadi bagian dari identitas Tanjungpinang.
“Senang sekali. Ini pertama kali saya datang malam-malam ke Penyengat. Ternyata indah sekali,” kata Dian, salah seorang peserta, masih terengah-engah.
Malam itu, Pulau Penyengat membuktikan bahwa warisan sejarah bukan hanya bisa dinikmati di siang hari. Ia juga bisa berkilau di bawah cahaya lampu, diiringi derap langkah dan semangat orang-orang yang berlari menembus waktu.(kar)





